Para Pekerja ‘Berat’ di Tengah Ramadhan

  • Whatsapp
Miftahus Surur, S. Ag.,M. SI

(Miftahus Surur,  S.Ag.,M.SI)

 

Bacaan Lainnya



Diantara sebagian masyarakat kita ada yang memiliki pendapat bahwa pekerja berat seperti buruh bangunan, penarik becak, tukang kayu, atau tukang panggul barang-barang berat tidak wajib berpuasa. Pendapat seperti ini tentu saja perlu diluruskan, atau paling tidak perlu diperjelas penjabarannya supaya tidak menimbulkan kekeliruan pemahaman.

Puasa ramadhan itu pada dasarnya diwajibkan kepada siapapun dan apapun profesinya. Pengecualiannya dapat diterapkan kepada orang-orang tertentu dan itu pun harus disertai dengan persyaratan-persyaratan tertentu pula. 

Nah, mengenai puasa para pekerja berat ini terdapat beberapa penjelasan yang perlu dicermati.

Pertama, bahwa untuk menentukan suatu pekerjaan apakah berat atau tidak berat tentu tidak bisa disama-ratakan. Maka yang bisa menentukan berat atau ringannya adalah si pekerja itu sendiri. 

Misalnya, bagi pak Rinto yang usianya sudah mencapai 50-an, bekerja sebagai tukang panggul barang itu sangat berat mengingat usia dan tenaganya yang sudah lemah. Tetapi bagi pak Marjuki yang masih muda dan energik, bekerja seperti itu tidak terkategori berat.

Kedua, bagi orang-orang yang memang merasa bahwa pekerjaannya sangat berat, maka ketika malam ia tetap harus berniat untuk melaksanakan puasa. Ketika siang hari ia merasa tidak kuat dan tidak sanggup–tentu saja dengan penuh kejujurannya–maka ia boleh membatalkan puasanya. 

Ketiga, keadaan bolehnya tidak berpuasa ini perlu memperhatikan situasi darurat. Misalnya, jika ia bekerja berat dalam keadaan puasa lalu dapat menyebabkan dirinya meninggal dunia, maka boleh untuk membatalkan puasanya.

Atau, Ketika ada seorang buruh yang dipaksa oleh majikannya untuk tidak boleh berpuasa karena dianggap akan mengurangi kualitas kinerjanya, dan si buruh tersebut menganggap bahwa jika ia tidak bekerja dapat menghilangkan penghasilan dan nafkah bagi keluarganya, maka ia boleh untuk tidak berpuasa. 

Kesimpulannya, pekerja apapun tetap memiliki kewajiban berpuasa. Mereka boleh untuk membatalkan puasanya ketika dalam situasi yang sangat darurat sudah tidak kuat atau tidak mungkin melaksanakan puasanya. Bagi mereka, tetap punya kewajiban untuk mengganti puasanya di lain waktu. Wallahu a’lam bisshowab (MS)



Pos terkait