Parosil : Jadikan Budaya Marwah Prilaku Kehidupan

  • Whatsapp

Medialampung.co.id, KEBUNTEBU – “Perayaan Kebudayaan” Megalitik Batu Bkhak, di Pekon Purawiwitan, Kecamatan Kebuntebu, Kabupaten Lampung Barat (Lambar), yang kali pertamanya dilaksanakan di Provinsi Lampung oleh Komunitas Seni Lampung Jumat (5/7), dihadiri langsung Bupati Parosil Mabsus.

Parosil Mabsus, didepan seluruh peserta termasuk seniman dari Spanyol dan Hongaria yang hadir dalam acara itu, menyampaikan, Pekon Purawiwitan khususnya memiliki beberapa potensi yang bila digali mendatangkan banyak manfaat. Salah satunya dibidang pariwisata, yakni adanya situs peninggalan sejarah pada masa lampau. “Situs itu merupakan salah satu dari beberapa situs megalitik yang berada di Kecamatan Kebuntebu,” tegasnya..

Bacaan Lainnya



Diceritakannya, situs megalitik Batu Bkhak pertama kali diketemukan pada tahun 1951 oleh Badan Rekonstruksi Nasional (BRN). Penelitian pertama dimulai pada tahun 1980 oleh Prof DR Aris Soekandar, arkeolog dari jakarta.

Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa situs megalitik Batu Bkhak itu dahulu dipakai sebagai tempat pemujaan, bukan tempat pemakaman pada zaman animisme. “Situs ini telah melalui pemugaran selama empat tahap, yang dimulai pada tahun 1984 hingga 1989. Pada tahun 1989, komplek situs megalitik Batu Bkhak ini mulai dibuka untuk umum baik untuk wisata maupun untuk keperluan penelitian.

Pak Cik–sapaan akrab Parosil Mabsus. Minta, bukti sejarah itu tidak hanya sebagai bukti saja. Namun juga harus dilakukan pengembangan agar setiap generasi dapat mengambil manfaat dari peninggalan situs megalitikum ini. Karena bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk. Tidak heran jika memiliki banyak keanekaragaman suku dan budaya yang tertuang dalam slogan “Bhineka Tunggal Ika” dimana dengan berbagai macam keanekaragaman kekayaan dari adat-istiadat, suku, agama, lagu, kesenian, alat tradisional, makanan, minuman, cara hidup sampai budaya lokal yang berbeda-beda namun tetap mereka memiliki satu bangsa yaitu bangsa indonesia.

Budaya juga merupakan identitas bangsa yang harus dihormati dan dijaga serta perlu dilestarikan agar kebudayaan tidak hilang dan bisa menjadi warisan anak cucu kelak.

“Tentunya. maksud dan tujuan kegiatan ini diadakan agar situs megalitikum ini bisa menjadi tempat berkumpulnya para seniman, budayawan, pemerhati, dan organisasi-organisasi kesenian untuk terus dan terus mengembangkan kreasi dan inovasi sekaligus mengaktualisasikan diri melalui aktivitas, dan prestasi seni. selain itu, event ini juga merupakan bagian dari upaya pembinaan dan pelestarian budaya daerah Lampung Barat. sebab kita semua menyadari betapa pentingnya makna kebudayaan dalam rangka memperkokoh jati diri bangsa agar tidak tergerus oleh derasnya arus globalisasi dan modernisasi,” ujarnya.

Terkait itu Parosil ajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan budaya sebagai marwah dari setiap perilaku kehidupan. khususnya bagi diri masyarakat Kabupaten Lambar.

Seperti diketahui event itu dimaksudkan sebagai forum pertemuan (sharing) pelaku seni dengan masyarakat, dan alam. Dalam prosesnya bisa diartikan juga sebagai perjalanan kembali (traveling back to the sources), upaya mengembalikan seni ke masyarakat, alam, ke sumber kehidupan, atau sejumlah ihwal yang terkait nafas hidup, spiritualitas sebagaimana spirit seni-seni tradisi yang telah tumbuh sebelumnya.

Pada waktu yang bersamaan, selain di situs Batu Bkhak Lampung Barat, perayaan kebudayaan megalitik juga dilaksanakan di Avebury UK (Inggris), Watu Kandang Matesi (Jawa), Lindeskov (Denmark), Batu Pake Gojeng (Sulawesi), Tejakula, Bali dan seluruh dunia pada tanggal 5 Juli 2019. Secara global, nama kegiatan itu adalah Celebrating Megalithic Art @sistersites yang diinisiasi oleh Padepokan Lemah Putih Solo, Sharing Movement, Web Art Garden, Dharma Nature Time, Komunitas Seni Lampung.

Kabid Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Barat Riady Andrianto mengatakan bahwa Situs Megalitik adalah salah satu jejak sejarah peradaban dan budaya suatu masyarakat. Pada masa sekarang, beragam situs bisa berfungsi sebagai sumber kreativitas dan sumber cipta seni lingkungan hidup. Situs bisa menjadi acuan, semangat, inspirasi di dalam proses mawujud nilai-nilai pusaka pustaka pujangga yang akan sangat berguna bagi perkembangan seni budaya di Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya.

Melalui kegiatan itu maka diharapkan kedepan keberadaan situs megalitikum Batu Bkhak itu akan semakin dikenal oleh daerah luar, sehingga potensi wisata sejarah budaya Lambar akan banyak diketahui oleh masyarakat luar Lampung.

Dan diharapkan ke depannya akan ada peningkatan kunjungan wisatawan dan meningkatnya perkembangan wisata budaya serta meningkatnya kecintaan masyarakat untuk merawat dan menjadikan situs itu, yang juga akan berdampak baik bagi peningkatan ekonomi.

Sementara Alexander GB, aktor dan novelis Komunitas Berkat Yakin Lampung, salah satu fasilitator kegiatan di situs Batu Bkhak mengatakan, Dirasa sangat penting kalau semua melihat bahwa dalam kesenian rakyat maupun tradisi Indonesia masa sekarang ini terjadi perubahan nilai dengan adanya pergesekan antara dunia tradisi (adat istiadat) dengan perkembangan dunia global, yang membuat manusia Indonesia gamang akan nilai-nilai tradisi mereka sendiri. “Semoga acara Merayakan Seni Megalitik mampu menyumbang kekuatan daya tumbuh bagi kesenian dan kebudayaan di Lampung, Indonesia, dan dunia, harapannya.

Alexander GB menjelaskan bahwa event ini sebagai gerakan seni dengan situs megalitik sebagai titik berangkat bagi pertemuan (silaturahmi) beragam jenis ekspresi seni yang ada di Lampung, Indonesia dan dunia. Tujuan daari kegiatan ini untuk meruwat dan merawat hubugan antara manusia dengan sesama manusia, dengan alam, dan Sang Pencipta.

Riyan Kramayuda, koordinator kegiatan Merayakan Seni Megalitik Batu Bkhak berharap perhelatan ini menumbuhkan kembali rasa kebersamaan, gotong royong, menimbulkan kecintaan bersama, membuka diri, memantik percakapan-percakapan antara penonton, kritikus, maupun penyaji kesenian baik modern atau tradisi, dan diharapkan mampu mereguk inspirasi cerita-cerita lisan, arsitektur alam dan masyarakat setempat.

Menurutnya Seni Megalitik ini dapat menyegarkan spirit berkesenian lewat akar budaya situs, terjadinya pertemuan dan perkenalan kreatif dari semua pihak yang terlibat, munculnya kesadaran membangun jaringan antar pelaku seni di lampung, Indonesia dan dunia.

Selain pentas seni akan ada workshop (pelatihan), kemah dan diskusi tentang situs megalitik, baik dari dinas maupun dari seniman-seniman yang terlibat. Yang sudah menyatakan kesediaan berpartisipasi antara lain: Al-Mudena (Visual Art-Spanyol), Laura Penya (Dancer-Spanyol), Alexander GB (Komunitas Berkat Yakin Lampung), Teater Cupido, Sanggar Gauri, Diantori (Dance-Gar Dancestory), Dian Anggraini (Dancer-DADC Lampung), Edythia Riowirawan-Orkes Bakda Isya (Musisi-Lampung), UKMBS Universitas Lampung, Komunitas-komunitas Seni dan Literasi Masyarakat Lambar, dan lain sebagainya. (rin/mlo)



Pos terkait