Pelepasliaran Harimau Sumatera “Kyai Batua” Ditunda

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Rencana pelepasliaran Harimau Sumatera “Kyai Batua”, yang dijadwalkan Selasa (17/8), bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-76 tahun 2021, oleh Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS), di kawasan hutan TNBBS wilayah administrasi Pekon Mon Kecamatan Ngambur Kabupaten Pesisir Barat (Pesbar), ditunda.

Kasi TNBBS Wilayah II, Jimmy Fonda, mengatakan sebelumnya untuk pelepasliaran harimau sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) “Kyai Batua” itu telah direncanakan hari ini (kemarin, red), dan rencana pelepasliaran itu juga telah disosialisasikan ke masyarakat di wilayah administrasi, tidak jauh dari perbatasan kawasan hutan TNBBS. Tapi rencana itu ditunda, dan BBTNBS masih menunggu arahan selanjutnya dari pusat.

Bacaan Lainnya

“Sehingga harimau sumatera itu dikembalikan ke Lembaga Konservasi Lembah Hijau,” kata dia.

Sementara itu, Kapolsek Bengkunat, AKP Hi. Suhairi, mendampingi Kapolres Lampung Barat, AKBP Hadi Saepul Rahman, S.Ik., mengatakan penundaan rencana pelepasliaran harimau sumatera itu, pihaknya telah mendapat tembusan dari BBTNBBS, nomor : S.875/T.7/BIDTEK/KSA.2/8/2021 tanggal 16 Agustus 2021, perihal pelepasliaran harimau sumatera “Kyai Batua”.

Selain itu, BBTNBBS juga menindaklanjuti surat Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem nomor : S.620/KSDAE/KKH/KSA.2/8/2021 tanggal 16 Agustus 2021 perihal penundaan pelepasliaran harimau sumatera “Batua” yang semula akan dilaksanakan tanggal 17 Agustus 2021 di Dusun Mendati Pekon Mon, Kecamatan Ngambur untuk sementara waktu ditunda pelaksanaannya.

“Sehingga, dengan adanya surat itu, maka kita juga telah menyampaikan kepada Peratin beserta perangkat Pekon, dan masyarakat di wilayah administrasi rencana pelepasliaran harimau sumatera itu baik di Pekon Mon, Ulok Mukti, Bumi Ratu dan terkait lainnya,” jelasnya.

Masih kata dia, dalam surat Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, tersebut juga menyampaikan beberapa hal terkait dengan penundaan pelepasliaran harimau sumatera “Batua” itu. Antara lain, bahwa Batua merupakan harimau sumatera jantan yang berhasil diselamatkan dari jerat sling di wilayah Suoh pada tanggal 2 Juli 2019. Akibat terjerat, tulang jemari 2-5 kaki sebelah kanan diamputasi, dan selanjutnya Batua menjalani proses penyembuhan dan rehabilitasi sampai dengan siap dilepasliarkan di Lembaga Konservasi Lembah Hijau.

“Perencanaan pelepasliaran satwa memerlukan kajian habitat, perilaku, dan juga kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar lokasi pelepasliaran,” kata dia.

Kemudian, lanjutnya, pada surat itu juga menjelaskan berdasarkan kajian perilaku harimau Batua, masih memperlihatkan tanda-tanda dan perilaku yang masih alami, dan menunjukan sifat keliaran seperti menerkam mangsa hidup, menandai beberapa tempat dengan urine, feses, nafsu makan yang normal serta kondisi badan yang ideal. Sehingga secara medis dan perilaku siap untuk dilepasliarkan.

“Sementara berdasarkan kajian habitat, resort Ngambur merupakan habitat yang sesuai dari ketersediaan pakan, aktifitas ilegal rendah, dan keberadaan harimau jantan lain tidak ada,” jelasnya.

Ditambahkannya, kajian sosial ekonomi masyarakat perlu diperkuat untuk mendukung keberlangsungan harimau “Batua” di alam. Untuk itu perlu diperkuat sosialisasi kepada masyarakat, tidak hanya di sekitar lokasi. Tapi juga di wilayah Lampung. Selain itu, agar dipertimbangkan kemungkinan adanya ancaman penyakit African Swine Fever, itu perlu dipertimbangkan saat ini. Terkait dengan kesehatan pakan harimau di alam, termasuk di lokasi rencana pelepasliaran tersebut.

“Karena itu rencana pelepasliaran harimau sumatera “Kyai Batua” ke kawasan hutan TNBBS itu sementara ditunda, sampai Ditjen KSDAE melakukan cek langsung kondisi Kyai Batua, dan mendapat penjelasan dari salah satu dokter hewan yang mengamputasi kaki harimau sumatera itu,” pungkasnya.(yan/d1n/mlo)


Pos terkait