Pembangunan Lamban Budaya Dimulai

  • Whatsapp
Bupati Lampung Barat, Hi. Parosil Mabsus didampingi Wakil Bupati Hi. Mad Hasnurin, dn jajaran Forkopimda serta tokoh adat melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Budaya di eks lahan Gedung Serba Guna (GSG) Nata Margha komplek perkantoran pemkab Lambar Rabu (16/10). - Foto Nopriadi

Medialampung.co.id – Bupati Lampung Barat (Lambar), Hi. Parosil Mabsus didampingi Wakil Bupati Hi. Mad Hasnurin, Kapolres Lambar AKBP Rachmat Tri Haryadi, S.Ik, M.H., Kepala Pengadilan Negeri (PN) Liwa Yuli Artha Pujayotama, SH, M.H., dan jajaran Forkopimda lainnya, serta dihadiri oleh tokoh agama, tokoh adat dari empat kepaksian, melakukan peletakan batu pertama sebagai simbol dimulainya pembangunan Lamban Budaya di eks lahan Gedung Serba Guna (GSG) Nata Margha komplek perkantoran pemkab Lambar, Rabu (16/10).

Dalam kesempatan itu, Parosil mengungkapkan, tujuan dari Lamban Budaya ini adalah sebagai pusat kesenian dan destinasi wisata bukan sebagai museum, dengan adanya pengembangan dan pelestarian yang dilakukan di Lamban Budaya, diharapkan kesenian dan kebudayaan yang ada di masyarakat Lambar tidak mengalami kemunduran ataupun mendekati kepunahan.

Bacaan Lainnya



Terkait hal tersebut, karena banyaknya pengaruh budaya dan kesenian dari luar Lampung Barat bahkan luar negeri, sehingga berkurangnya minat masyarakat terhadap kesenian tradisional Lambar, hal itulah yang menyebabkan lunturnya nilai-nilai dan memudarnya kesenian traditional itu sendiri bahkan mendekati kepunahan maka dari itu perlu sebuah wadah yang menangani masalah ini

”Adanya pengembangan dan pelestarian terhadap kesenian tradisional yang dilakukan Lamban Budaya tentunya akan menimbulkan dampak yang signifikan terhadap perkembangan pariwisata di Lambar khususnya di bidang kesenian itu sendiri,” ujarnya.

Diantaranya, kata dia, adalah upaya dalam menarik para wisatawan untuk datang berkunjung ke Lambar dengan motivasi untuk melihat kesenian daerah Lambar dan juga karena adanya pertunjukan dan pergelaran seni yang sering di selenggarakan tepatnya di Lamban Budaya otomatis akan banyak menimbulkan antusiasme dari penikmat-penikmat seni.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Hi. Ansari mengungkapkan, pembangunan Lamban Budaya telah mempertimbangkan berbagai asek, mulai aspek teknis maupun arsiterktur, pihaknya telah mempertimbangkan persyaratan teknis kondisi topografi wilayah Lambar yang ada di jalur gempa, sehingga pembangunannya penuh dengan perhitungan.

”Menyoal artsitektur penggunaan pondasi luar biasa,  yakni menggunakan bor pile dengan kedalaman bervariasi, ada yang 10 meter dan ada yang 14 meter. Sementara untuk arsitektur telah kami pertimbangkan sehingga enak dipandang dari seluruh sudut, dengan ukuran bangunan 35×35 meter, terdapat aula berukuran 25×25 memeter, multi fungsi bisa digunakan sebagai sarana olahraga, dan kegiatan lainnya,” ujarnya.

Terusnya, perkiraan Lamban Budaya tersebut memiliki daya tampung sekitar 600 orang, dan perlu diketahui segi arsitektur pihaknya telah memperhatikan  usulan dan masukan dari berbagai pihak, dengan memperhatikan filosofi kebudayan yang ada, siger, simbol paksi empat kebuayan, dan daerah.

”Beradaarkan hasil perencanaan pembangunan Lamban Budaya menyerap anggaran Rp20 miliar dan tahun ini tersedia dana Rp5,6 miliar, dan tahap selanjutnya kami menyesuaikan anggaran dengan anggaran yang dimiliki daerah namun target kami pembangunannya selesai dalam tiga tahun anggaran,” pungkasnya. (nop/mlo)



Pos terkait