Pemprov Bersama Pusat dan NJO Galakkan Alat Tangkap Ikan Ramah Lingkungan

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Guna menjaga kelestarian stok dan ekosistem perikanan rajungan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung bekerjasama dengan Pemerintah Pusat serta Non-Governmental Organization (NJO), menggalakkan alat tangkap ramah lingkungan pada para nelayan.

Pengelola Produksi Perikanan Tangkap (P3T) Madya di Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan, Siti Kamarijah mengatakan, dampak dari masih menggunakan alat tangkap yang merusak lingkungan saat ini nelayan harus ke tengah laut untuk mencari rajungan.

Bacaan Lainnya

“Maka pelestarian rajungan untuk berkelanjutan ini mesti kita sosialisasikan pada nelayan, untuk menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan. Karena kita tidak ingin anak cucu kita tidak kenal dengan yang namanya rajungan,” ujar Siti, secara virtual dalam pelatihan singkat kampanye media Rajungan Untuk Masyarakat Sejahtera (JUARA) bersama wartawan di Hotel Emersia, Bandarlampung, Sabtu (18/9).

Lanjutnya, Pentingnya sosialisasi agar nelayan tidak menangkap rajungan yang masih kecil dan yang sedang bertelur. Alat tangkap yang dihindari yakni jaring insang dasar, jebakan ikan dan pukat yang tidak berkelanjutan.

“Kita harus kasih tahu pada nelayan yang belum paham pentingnya pelestarian dan mengoptimalkan pengelolaan rajungan. Kemudian dalam penegakan hukum juga belum dioptimalkan terhadap yang melanggar,” lanjutnya.

Kabid Perikanan Tangkap, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung, Sutaryono mengatakan, demi menjaga kelestarian stok dan ekosistem rajungan pihaknya bekerjasama dengan Tiga NJO dalam pendampingan dan memberikan sosialisasi lapangan pada para nelayan.

“Karena target kita di 2022 provinsi Lampung penghasil rajungan terbaik di Indonesia. Hal itu bisa dicapai dengan peningkatan kualitas pengelola rajungan, kemudian produksi yang tinggi dan pengelolaan sumberdaya rajungan nya,” Ungkapnya.

Lampung saat ini 10 sampai 15 persen produksi rajungan nasional berasal dari perairan pesisir Timur Lampung. Pada tahun 2019 volume ekspor rajungan meningkat 15,9 persen, namun nilai ekspor rajungan pada tahun 2020 menurun 2,6 persen dari tahun sebelumnya.

“Oleh karenanya harus dilakukan pengetatan suatu zona sehingga daerah tersebut dilindungi dan dapat berkelanjutan. Karena hal itu juga mampu meningkatkan ekonomi, ekspor dan meningkatkan pendapatan para nelayan,” ungkapnya.

Berdasarkan data dari asosiasi pengelolaan rajungan Indonesia (APRI), 640.000 ton sampah di laut Indonesia berasal dari alat tangkap yang rusak lalu dibuang maupun yang terbawa arus. 

“Masalah bantuan pada nelayan, tentunya kita juga terkendala dengan anggaran daerah. Tapi untuk tahun ini ada bantuan hanya nelayan yang aktif dan mengajukan ke dinas. Tapi bantuan ini bertahap kita berikan karena saat ini juga kita anggaran nya di refocusing,” jelasnya.

Sementara Ketua Forum Nelayan Rajungan Provinsi Lampung, Miswan mengakui bahwa saat ini dari tahun ke tahun hasil tangkap rajungan mengalami penurunan.

“Itu juga karena dampak dari alat yang tidak ramah lingkungan yang sering mengusik tempat bertelurnya rajungan itu,” katanya.

Oleh karenanya, Ia berinisiatif dengan membentuk kelompok untuk memikirkan bagaimana menjaga kelestarian rajungan sebagai sumber kehidupan para nelayan kecil.

Seperti di daerah saya di Lampung Timur. Pola penangkapan jaring nya sudah dimodifikasi, sehingga rajungan yang kecil tidak kena jaring dan rajungan yang sedang bertelur langsung dilepaskan kembali ke laut,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga ada waktu-waktunya untuk mencari rajungan, dimana hanya musim Barat saja sementara jika musim Timur yang mana rajungan sedang bereproduksi pihaknya beralih mencari komoditas perikanan lainnya.

Kemudian pihaknya juga melakukan sosialisasi pada kelompok nelayan lainnya untuk menangkap rajungan dengan alat yang tidak merusak lingkungan.

“Misalnya ada alat tangkap nelayan yang kurang ramah lingkungan, kita cari solusinya sama-sama. Karena tujuannya untuk keberlangsungan rajungan itu sendiri dan sebagai mata pencaharian yang berkelanjutan,” pungkasnya. (*/mlo)


Pos terkait