Pemprov Lampung Studi Banding Strategi Pengendalian Inflasi Daerah di Yogyakarta

Medialampung.co.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung, melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), melakukan studi banding mengenai strategi pengendalian inflasi daerah Provinsi D.I. Yogyakarta di Komplek Kepatihan, Jum’at (10/12). 

Pada kesempatan itu, Gubernur Lampung Arinal Djunaidi, yang diwakili Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kusnadi diterima oleh Asisten Sekda bidang Perekonomian dan Pembangunan D.I. Yogyakarta Tri Setyana.

Bacaan Lainnya


Dalam sambutan Gubernur Lampung yang dibacakan Kusnadi disebutkan Provinsi D.I. Yogyakarta sebagai penerima TPID Awards terbaik untuk wilayah se Jawa – Bali Tahun 2020.

“Terkait hal tersebut saya bersama TPID Provinsi Lampung ingin melakukan diskusi dan pembelajaran tentang strategi pengendalian inflasi, dan juga upaya yang dilakukan dalam pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Provinsi D.I. Yogyakarta”, ujar Kusnadi. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2020, Provinsi Lampung terbagi dalam 15 Kabupaten/Kota yang masing-masing memiliki potensi dan keunikan kewilayahan. Jumlah penduduk Provinsi Lampung telah mencapai lebih dari 9,01 juta jiwa, dan merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar kedua di Pulau Sumatera.

Kusnadi menyampaikan bahwa posisi Lampung sangat strategis sebagai pintu gerbang Pulau Sumatera dan didukung dengan kesiapan berbagai infrastruktur yang telah ada. 

“Adanya Jalan Toll sepanjang 252 km yang merupakan bagian Jalan Toll Trans Sumatera maka pergerakan manusia dan barang menjadi semakin mudah,” tambah Kusnadi. 

Kusnadi menjelaskan bahwa pada Triwulan III, perekonomian Provinsi Lampung telah menunjukan ke arah pemulihan ekonomi. Hal tersebut dapat dilihat dari perkembangan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung, yang mencatat Pertumbuhan ekonomi Lampung triwulan III-2021 (y-o-y) mengalami pertumbuhan sebesar 3,05 persen.

“Perekonomian Lampung didominasi oleh 3 (tiga) Sektor utama yaitu: Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (29,94%), Industri Pengolahan (19,70%); Perdagangan dan Reparasi kendaraan (11,39%)”, ujar Kusnadi. 

Provinsi Lampung juga memiliki potensi Sumber Daya Alam pertanian cukup besar dan melimpah, diantaranya padi, jagung, ubikayu, buah-buahan (nanas, pisang, pepaya), tebu, serta beberapa komoditas lainnya (kopi, lada, kakao, kelapa sawit, karet, sapi potong, dan ternak kambing).

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi Provinsi Lampung Tahun 2020 sebesar 2,7 juta ton yang merupakan peringkat 6 Nasional atau peringkat 2 Sumatera. 

Produksi jagung sebesar 2,61 juta ton dan menempati peringkat 3 Nasional atau peringkat 1 Sumatera. Untuk ubikayu, dengan produksi sebesar 5,98 juta ton menempati peringkat 1 Nasional. 

Adapun untuk buah-buahan, produksi nanas sebesar 662.587 ton menempati peringkat 1 Nasional dan pisang sebesar 794.027 ton menempati peringkat 3 Nasional.

Sedangkan untuk tanaman perkebunan, yaitu tebu, dengan produksi rata-rata sebesar 732 ribu ton menempati peringkat 2 Nasional. Selain itu, komoditas Kopi Robusta Lampung yang merupakan komoditas unggulan Provinsi Lampung telah mendapatkan pengakuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa Sertifikat Indikasi Geografis Kopi Robusta Lampung. Diharapkan hal itu dapat lebih meningkatkan kualitas dan memberikan nilai tambah bagi petani.

“Pemerintah Provinsi Lampung akan mengembangkan Sektor Pariwisata diantaranya saat ini yang sedang digagas bersama 3 BUMN dan menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional yaitu Kawasan Pariwisata Terintegrasi Bakauheni,” tambah Kusnadi. 

Sementara itu, Asisten Sekda bidang Perekonomian dan Pembangunan D.I. Yogyakarta Tri Setyana, yang mewakili Gubernur D.I. Yogyakarta menyampaikan selamat datang kepada TPID Provinsi Lampung.

“Semoga kesempatan ini dapat membentuk silaturahmi yang baik diantara kita, dan dapat memberikan kesan yang baik bagi TPID Provinsi Lampung,” ujarnya.

Tri Setyana menjabarkan Program Inovasi TPID DIY Tahun 2020 yaitu, di sisi supply terdapat Program Smart Digital Farming, Smart Digital Market (Semar), Pasar Lelang Digital di dioanen.id, Grand Design Tata Negara, serta Optimalisasi Toko Tani Indonesia. 

Sedangkan pada Inovasi di sisi demand, terdapat reaktivasi pariwisata sebagai Engine of Growth ekonomi DIY, selanjutnya adalah Subsidi Ongkir. 

Kemudian dari segi Inovasi Efisiensi Pengendalian Inflasi TPID, terdapat Program Big Data Inflasi DIY, yaitu sinergi data untuk peningkatan kualitas perumusan kebijakan TPID. 

Pada acara ini hadir pula Kepala BI Perwakilan KPW Provinsi Lampung Budiharto, Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Bappeda, Kepala Dinas Peternakan, dan Kepala Biro Perekonomian Provinsi Lampung. (*/mlo)


Pos terkait