Pendemo Hadang Eskavator, Penertiban PKL Kembali Ditunda

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Pemkot Bandarlampung menunda penertiban pedagang kaki lima (PKL) di Jl. Bukittinggi untuk menghindari terjadinya bentrok fiksi antara petugas gabungan dengan pedagang yang menolak direlokasi. 

Rencana pembongkaran kios PKL Jl. Bukittinggi alot karena sebagian pedagang tidak ingin lapaknya ditertibkan oleh tim gabungan Pemkot Bandarlampung. 

Bacaan Lainnya

Satpol PP yang bertugas menegakkan perda No.2/2018 meminta kepada pedagang yang masih bertahan untuk segera pindah ke lantai II Pasar Bambu Kuning, karena menyalahi aturan dengan berdagang di atas drainase yang sudah jelas tidak diperbolehkan. 

Tapi dalam pelaksanaannya, Pol PP kota Bandarlampung terkesan lemah dalam menegakkan perda, yang sudah jelas tidak boleh berdagang di atas drainase atau trotoar. 

Padahal Pol PP kota Bandarlampung menurunkan puluhan anggota dan di bantu anggota Sabhara Polresta serta TNI dan Dinas Perhubungan, untuk menertibkan kios-kios yang melanggar aturan, tapi Satuan Pol PP Kota Bandarlampung masih menunda untuk menertibkan karena kurang koordinasi dengan Dinas Perdagangan. 

Untuk menertibkan kios-kios yang melanggar aturan karena berdiri di atas drainase, Namun pemilik kios masih bertahan karena tidak ingin dipindahkan. 

Keadaan sempat memanas saat kendaraan Eskavator mulai merangsek untuk merobohkan kios, pendemo yang sebagian Ibu-ibu menghadang lajunya Eskavator dengan merapatkan barisan. 

Sementara Kepala Dinas Perdagangan Kota Bandarlampung Wilson Faisol mengatakan, pihaknya tetap akan membongkar lapak PKL karena sesuai kesepakatan yang seharusnya diterbitkan tanggal Rabu (17/11) kemarin, namun terpaksa ditunda dengan alasan masih ada negosiasi dari perwakilan pedagang. 

“Untuk saat ini kita tunda dulu hingga 1-2 hari kedepan, bukannya kita kalah dengan mereka yang melanggar aturan, namun kita menghindari adanya bentrokan fisik dan juga kita harus mewaspadai adanya penyusup dari orang yang tidak bertanggung jawab,” tegas Wilson, Rabu (18/11).

Menurutnya, pembatalan ini bukan berarti sebuah kegagalan, namun lebih untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan serta menjaga suasana agar tetap kondusif.

“Masih ada waktu untuk membongkar kios dengan cara persuasif, memang ada sedikit perlawanan dari mereka, tapi kita tetap akan membongkar sesuai perda yang berlaku, kan ini untuk mereka juga agar kota Bandarlampung lebih rapi dan cantik, mereka pedagang kita berikan tempat di lantai II Pasar Bambu Kuning dengan gratis selama 3 bulan dan fasilitas kita lengkapi, jadi tidak masalah lagi,” jelas Wilson Faisol.(jim/mlo)

Pos terkait