Penyandang Disabilitasi Kembangkan Kebun Hidroponik

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Ketidak sempuraan fisik (disabilitas) bukan alasan bagi Maya Juniarti (25) warga Pekon Purajaya, Kecamatan Kebuntebu, Kabupaten Lampung Barat (Lambar) untuk menyerah dalam menciptakan usaha demi mencukupi kebutuhan hidupnya.

Apa yang diperbuat Maya tentunya patut jadi inspirasi, buktinya, justru dengan keterbatasan fisik yang dialami ia mampu memanfaatkan teknologi dengan membuka usaha rumahan berupa kebun hidroponik dengan memanfaatkan lahan kosong di sekitar tempat tinggalnya.

Bacaan Lainnya



Berkat keseriusan dan ketekunan usaha yang dirintisnya sejak satu tahun lalu, kini Maya mampu meraup keuntungan Rp2 juta – Rp2,5 juta/bulan. Penghasilan itu juga karena keterbatasan perkebunan yang dibukannya. “Alhamdulilah peminat tanaman hidroponik ini terus bertambah. Namun karena keterbatasan dana dan tenaga saya baru bisa sebatas ini,” ungkapnya.

Disebutkannya ketertarikannya mengembangkan usaha hidroponik, dengan telah memahami teknik-tekniknya, tentunya bukan hal yang kebetulan diperoleh, melainkan diraih dari jerih payah yakni Study Pendidikan  Bidang Pertanian di Polinela Bandar Lampung.

Dan saat ini tanaman hidroponik berupa sayuran jenis sawi-sawian seperti Pakcoy merah dan hijau, caisim, selada, bayam dan kangkung yang dikembangkannya banyak diminati masyarakat, bahkan tidak sedikit pejabat-pejabat pemerintah yang berkunjung ke perkebunannya.

Disebutkan Maya, penerapan pemasaran  hasil perkebunanya dilakukan dengan memanfaatkan kecanggiahn teknologi melalui media sosial (medsos) dan sejenisnya yang langsung diserap publik.

Pihaknya juga menyebutkan, dari segi kesehatan sayuran yang ia kembangkan dengan pola Hidroponik memiliki banyak keunggulan, seperti  lebih segar serta bebas pestisida.

Begitu juga dalan teknik perawatan lebih mudah dan efisien baik waktu maupun tenaga. Termasuk masa panen lebih cepat dari penerapan penanaman pada umumnya, dan tak kalah pentingnya jumlah produksi yang dihasilkan lebih konsisten.

Maya menyebutkan untuk dapat menyerap ilmu pengetahuan tentang hidroponik masyarakat tidak perlu bingung menanyakan kemana cukup dilihat di internet. Tapi untuk pengembangannya memang perlu sarana, dan itulah yang saat ini masih menjadi kendalanya dengan keterbatasan sarana yang dimiliki.

Karena itu Maya dalam pengebangan kebun hidroponiknya tidak memanfaatankan pola yang biasa diginakan yakni Nutrient Film Technique (NFT) atau konsep mengalirkan nutrisi hidroponic ke akar tanaman secara tipis (film), melainkan dengan Deep Flow Technique (DFT). “DFT ini prinsipnya sama dengan NFT perbedaannya hanya pada kedalaman air nutrisi, sehingga ketika ada gangguan litrik (padam) akan menyisakan sedikit air,” tandasnya. (ius/mlo)



Pos terkait