Peringatan Gempa Liwa di Monumen yang Terbengkalai

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Tepat 26 tahun silam atau tepatnya tanggal 15 Februari 1994, Kota Liwa Lampung Barat luluh lantak oleh gempa bumi berkekuatan 6,5 skala righter (SR).

Gempa bumi tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi telah merenggut 207 korban jiwa mulai dari dewasa hingga anak-anak dalam bencana dengan titik terparah Kelurahan Pasar Liwa Kecamatan Balikbukit kala itu.

Bacaan Lainnya



Para korban jiwa dimakamkan di satu tempat, berdekatan dengan lokasi pemandian massal, yang juga tidak jauh dari RSUD Alimuddin Umar. Sayangnya, monumen itu kini kondisinya tidak terawat, begitu juga dengan komplek pemakaman massal.

Tak ingin melupakan sejarah, Bikers Subuhan Lampung Barat, usah melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid Kegeringan Batubrak, Minggu (17/2), mereka melanjutkan ziarah kubur ke pemakaman massal korban gempa Liwa.

Di monument gempa Liwa itu para bikers subuhan memanjatkan doa untuk korban gempa Liwa 94 yang di imami oleh ustadz Gufron.

Dalam ziarah tersebut Ustadz Gufron mengaku, saat terjadi gempa Liwa 26 tahun lalu beliau masih kelas 6 SD, gempa saat itu menurutnya sangat dahsyat.

Sementara Rian salah satu ketua bikers subuhan mengatakan bahwa baru ini dia tau lokasi monumen gempa Liwa dan cerita gempa Liwa dari rekan-rekannya ustadz Gufron, Eka Fendi dan pak Yosi yang mengalami langsung saat itu.

Sementara Eka Fendiaspara yang juga ketua GENPI Lambar mengatakan, peringatan gempa Liwa 94 ini untuk mengingatkan semua warga Lampung Barat yang tinggal di atas patahan semangko yang merupakan pusat gempa saat itu.

“Dengan mengingat itu, sehingga warga akan waspada untuk mengurangi resiko korban jika terjadi bencana alam. Dan masyarakat saat membangun rumah atau bangunan lainnya juga memikirkan konstruksi yang pas di daerah yang rawan terjadi gempa ini,” kata dia.

Menurutnya, sangat penting bagi pemuda dan masyarakat pada umumnya untuk terus mengingat gempa 94 yang pernah terjadi, untuk kewaspadaan bersama bahwa Liwa memang rentan terjadinya gempa Liwa.

Mereka juga berharap pemerintah lebih peduli dengan monument gempa Liwa ini dan membuat peringatan resmi dan rutin oleh pemerintah kabupaten Lampung barat, agar generasi muda dan seluruh masyarakat Lampung barat tetap waspada. (rls/nop)



Pos terkait