Pesta Topeng Sekura di Sekala Brak Terhalang Covid-19

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Pesta sekura atau sekuraan merupakan tradisi tua yang ada di kerajaan Sekala Brak Lampung yang secara administratif masuk di wilayah Lampung Barat. 

Menurut Ketua Generasi Pesona Indonesia (GENPI) Lambar Eka Fendiaspara, konon tradisi topeng Sekuraan sudah ada sejak Sekala Brak kuno yang dipakai untuk ritual pemujaan dewa, karena pada waktu itu masyarakat Sekala Brak di bawah ratu terakhirnya Sekekhemong menganut animisme, memuja Pohon melasa kepampang. 

Bacaan Lainnya



“Saat Islam masuk yang di bawa 4 Maulana (Maulana Pernong, Maulana Nyerupa, Maulana Bejalan Diway dan Maulana Belunguh) serta ayahnya Maulana Ngegalang Paksi, dan setelah runtuhnya kerajaan Sekala Brak kuno di bawah Ratu terakhirnya, maka tradisi topeng sekura ini diubah ke arah budaya Islam. Dipakai saat pesta sekura dalam rangka merayakan kemenangan di hari raya idul Fitri,” ujarnya. 

Terusnya, sekuraan merupakan teater luar ruang yang diperankan dua karakter sekura yakni sekura kamak yang memakai topeng kayu serta berpakaian kotor, compang camping sekaligus lucu yang diperankan oleh laki laki yang sudah berumah tangga. Selanjutnya ada sekura betik atau sekura kecah yang diperankan oleh bujang yang memakai kain dan kacamata sebagai penutup wajahnya.

“Sekura kamak dan sekura betik dari pagi sampai siang hari berkeliling kampung melakukan pawai dan terkadang membawa sampah dedaunan yang mereka ambil dari sudut sudut sudut kampung yang mengadakan pesta sekura tersebut. Sekura kecah juga terkadang menggoda muli (gadis) yang ada di beranda rumah panggung untuk berkenalan sekaligus bermaaf-maafan,” timpalnya. 

Sekuraan juga merupakan ajang silaturahmi, saling bermaafan di bulan Syawal. Pesta sekura berlangsung dari 1sampai 7 Syawal setiap tahunnya. Pekon Pekon atau kampung yang mengadakan di kecamatan Balikbukit, Batubrak dan Belalau. 

“Interaksi antara peserta sekura yang memakai penutup wajah dan pengunjung yang berada di lamban panggung saat menarik untuk dinikmati. Di pesta sekura itu juga ada hiburan musik juga budaya dan tradisi yakni pencak Lampung, hadra, mewayak dan hahiwang (sastra lisan Lampung) dan seni budaya lainnya,” ujarnya. 

Kemudian, sampai lah di puncak pesta sekura yakni sekitar jam 13.00 WIB, sekura kamak memperlihatkan keahliannya memanjat batang pinang. Batang pinang yang sudah disiapkan panitia untuk masing masing kelompok sekura dari Pekon lain yang datang ke pesta sekura itu.

Penonton bersorak sorai menyemangati sekura kamak yang memanjat pohon pinang masih lengkap dengan topeng yang melekat di wajah mereka. Sekura saling bahu membahu untuk bisa sampai ke puncak, inilah menggambarkan masyarakat Lampung Barat yang selalu Beguai Jejama (bergotong royong) untuk mencapai tujuan yang sama. 

“Tetapi di lebaran tahun ini 1441 Hijriyah Pesta budaya ini ditiadakan untuk menghormati himbauan pemerintah untuk tidak menyelenggarakan acara yang mengundang keramaian, dan untuk berlebaran di rumah saja di tengah pandemi covid-19 ini. Semoga tahun tahun berikutnya pesta sekura ini akan diadakan lagi dengan lebih meriah,” tutupnya. (nop/mlo)



Pos terkait