Petugas Disbunnak Lambar Temukan Cacing Hati pada Hewan Kurban

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Petugas Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kabupaten Lambar melakukan pemeriksaan hewan kurban pada hari raya Idul Adha di sejumlah kecamatan yang ada di kabupaten ini, termasuk di Kecamatan Balikbukit, Selasa (20/7).

“Petugas disebar di sejumlah kecamatan, dan khusus di Kecamatan Balikbukit hari ini pada saat tim melakukan pemeriksaan Post Mortem ditemukan ada lima ekor sapi yang hatinya terdapat cacing hati,” ungkap Kepala Disbunnak Nata Djudin Amran, Selasa (20/7).

Bacaan Lainnya

Kata dia, kelima ekor sapi yang ditemukan hatinya terdapat cacing hati itu rinciannya satu ekor dipotong di Masjid Al Mansyur Kelurahan Pasar Liwa, satu ekor di Mushola An Nur Kelurahan Waymengaku, satu ekor di Mushola Immannasir Kelurahan Waymengaku, dua ekor di Masjid Al Falah Kelurahan Waymengaku. 

“Hati sapi yang mengandung cacing hati itu kita sarankan untuk dibuang dan dikuburkan,” kata dia.

Menurut dia,untuk pemeriksaan hewan kurban tersebut akan berlangsung hingga Jumat (23/7) mendatang, pemeriksaan hewan kurban tersebut merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan pihaknya setiap tahun dan pemeriksaan tersebut meliputi Ante Mortem dan Post Mortem. 

“Pemeriksaan hewan kurban tersebut untuk memastikan semua hewan kurban dalam keadaan sehat dan berdasarkan hasil pemeriksaan Ante Mortem yang kita lakukan tidak ditemukan adanya hewan kurban yang sakit. Sementara kalau kita temukan ada penyakit cacing hati, maka kita rekomendasikan agar hatinya harus dibuang dan tidak dibagikan,” ungkap dia 

Lanjut dia, secara kasat mata, hewan sapi yang menderita penyakit cacing hati akan terlihat pada bagian mata dan leher yang warnanya mulai menguning, serta badannya juga terlihat kurus. Bahayanya apabila cacing hati tersebut termakan maka akan berpindah dan menempel di hati orang yang mengkonsumsinya.

“Maka untuk mengantisipasinya, kita rekomendasikan agar hati sapi yang mengandung cacing hati tersebut dibuang dan tidak dibagi-bagikan sehingga tidak dikonsumsi oleh masyarakat,” pungka dia. (lus/mlo)


Pos terkait