Pilihan Sulit

  • Whatsapp

Kalau semua orang miskin digaji negara akan aman, ekonomi aman, politik aman, hukum aman, yang punya uang juga aman.

Kalau pun tidak ada lockdown, jaminkan kepada rakyat, angka kriminalitas tidak naik. Juga tidak ada perampokan-perampokan. Jangan sampai lolos dari virus tapi mati di tangan perampok.

Terlepas akan ada lockdown atau tidak, saya melihat ke masjid. Ke pentingnya masjid di zaman Covid-19 ini.

Masa seperti inilah yang akan membuat masjid sangat strategis untuk menyelesaikan masalah sosial.

Kalau saja setiap masjid memiliki daftar orang miskin di sekitarnya alangkah masjid bisa dipakai sentral penyelesaian masalah. Masjid bisa menjadi jembatan antara yang kaya dan miskin.

Gereja mungkin juga bisa diperankan seperti itu. Tapi masjid lah yang umumnya berada langsung di tengah masyarakat miskin.

Tapi ini memang memerlukan kepengurusan masjid yang modern –cara berpikirnya.

Tentu negara juga punya database orang miskin. Yang sudah sangat rinci. By nameBy address.

Terserahlah.

Tapi saya sungguh kagum dengan kerelaan banyak masjid mengutamakan keselamatan umat manusia. “90 persen masjid di NTB tidak menyelenggarakan salat Jumat,” ujar Gubernur NTB, Dr Zulkieflimansyah kepada saya tadi malam. “Hari ini mungkin 95 persen,” tambahnya.

Padahal NTB sempat yang paling dikhawatirkan. Terutama Lombok. Yang mendapat gelar ‘Pulau Seribu Masjid’.

Saya pun mendapat kiriman pidato Bupati Lombok Timur, Sukiman Azmy. Yang begitu tegas. “Semua masjid harus ditutup. Yang melanggar bawa ke kantor polisi,” katanya.

Ia tidak mau banyak berdebat soal alasan. “Kurang berkah apa Masjidil Haram di Makkah. Ditutup. Kurang hebat apa para ulama di Al Azhar, Kairo, Mesir. Mereka telah berfatwa agar masjid ditutup,” kata Sukiman Azmy.

Memang Masjid Agung Surabaya tetap melaksanakan salat Jumat siang nanti. Tapi SOP-nya begitu ketat. (Baca DI’s Way:Masjid Jarang).

Ditambah rencana baru: agar masing-masing membawa sandal/sepatu yang sudah dimasukkan kantong plastik ke dalam masjid. Untuk diletakkan di sebelah masing-masing. Agar selesai salat tidak perlu bergerombol di tempat sandal.

Gereja-gereja juga sudah meliburkan kebaktian bersama di hari Minggu. Yang awalnya juga agak seret. Saya sempat mendapat kiriman video seorang pendeta yang mengajak umatnya jangan takut virus. Dengan alasan gereja itu rumah Tuhan. Kematian itu di tangan Tuhan.

Bahkan pendeta itu turun dari panggung. Berjalan menuju tempat duduk umat. “Jangan takut. Ayo kita pelukan,” katanya dalam khotbahnya.

Lalu jemaat yang di depan itu berdiri. Melayani pelukan sang pendeta.

“Ayo. Pelukan,” katanya lagi. Sambil mengajak jemaat di sebelah yang pertama untuk juga pelukan.

Begitulah seterusnya. Sampai tiga jemaat diajak pelukan.

Saya kenal pendeta itu. Saya pernah hadir di salah satu khotbahnya. Tapi saya tidak tega menegurnya via WA.

Saya pun mendengar seminggu kemudian kebaktian di gereja itu sudah ditiadakan.

Di Israel juga ada problem serupa. Dari jemaah Yahudi Ortodok.

Di negara kecil itu sudah lebih 6.000 warganya yang terkena Covid-19. Meski yang meninggal hanya 33 orang.

Jadi, saya memilih lockdown atau tidak?

Saya memilih sulit menjawab pertanyaan teman-teman di luar negeri.(Dahlan Iskan)



Pos terkait