Rumput Laut, Bahan Olahan Pangan Pengganti Nasi di Masa Depan

  • Whatsapp
Andani Tiara, S.T.P., Mahasiswi Magister Ilmu Pangan IPB

By: Andani Tiara, S.T.P., Mahasiswi Magister Ilmu Pangan IPB

Medialampung.co.id – Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Badan pusat Statistik (BPS) mencatat dalam 10 tahun terakhir, jumlah penduduk di Indonesia bertambah sebanyak 32,56 juta dengan laju pertumbuhan penduduk 1,25%. Peningkatan pertambahan penduduk di Indonesia yang terjadi terus menerus, mengakibatkan aktivitas pembangunan infrastruktur juga meningkat. 

Hal tersebut menyebabkan lahan pertanian yang dikikis akan terus menipis sehingga mengganggu jalannya aktivitas pada aspek pertanian. Salah satu hasil aspek pertanian terbesar di Indonesia adalah beras yang diolah lebih lanjut menjadi nasi.  

Nasi merupakan makanan utama masyarakat Indonesia. Dengan lahan pertanian yang menipis produksi beras akan terganggu, sehingga makanan utama masyarakat juga terganggu. Kejadian tersebut bila terjadi terus menerus, Indonesia akan mengalami krisis pangan.

Krisis pangan pada beras yang disebabkan karena kurangnya lahan pertanian sehingga berkurang pula hasil produksi nya, dibutuhkan suatu lahan yang dapat memproduksi hasil pangan pokok secara massal. Pemanfaatan lahan perairan adalah salah satu inovasi yang dapat digunakan.

Salah satu hasil pangan yang berasal dari perairan adalah rumput laut. Lahan produksi yang luas mengakibatkan produksi rumput laut melimpah, sehingga bahan tersebut mudah untuk ditemui. Masyarakat yang tinggal di daerah pesisir, pasti tidak asing lagi dengan rumput laut. 

Untuk mengantisipasi terjadinya krisis pangan pada beras, dibutuhkan suatu inovasi olahan yang dapat menggantikan nasi. 

Salah satunya dengan mengolah rumput laut untuk dapat menyerupai hasil olahan nasi. Penggunaan rumput laut sebagai bahan olahan pangan pengganti nasi merupakan suatu inovasi yang dapat diterapkan. Kandungan rumput laut yang baik untuk kesehatan dapat menjadi latar belakang yang tepat untuk dilakukan.

Rumput laut sering digunakan sebagai bahan pangan fungsional karena kandungan yang dimilikinya.  Kandungan karbohidrat pada rumput laut umumnya berbentuk serat yang tidak bisa dicerna oleh enzim pencernaan manusia, sehingga hanya memberikan sedikit asupan kalori dan cocok sebagai makanan diet (Sanchez et al., 2004).

Jumlah serat yang tinggi pada rumput laut yaitu 30-40%, sangat tepat digunakan untuk makanan fungsional. 

Selain itu, kandungan karbohidrat lainnya yang sehat dalam rumput laut dapat menurunkan kadar tingkat kolesterol. Kedua komponen tersebut, karbohidrat dan serat, juga dapat mengatur asupan gula dalam tubuh, sehingga mampu menurunkan gula darah dalam tubuh.

Berbeda, saat kita mengkonsumsi nasi yang berlebih, dapat mengakibatkan penumpukan karbohidrat pada tubuh yang berdampak pada obesitas bahkan kadar gula dalam tubuh meningkat.

Untuk itu, pengaplikasian rumput laut sebagai bahan olahan pengganti nasi dapat dilakukan, selain antisipasi krisis pangan pada beras, juga dapat meningkatkan kesehatan tubuh dan mengurangi angka obesitas di Indonesia. Teknologi pengolahan yang dapat dilakukan dalam pembuatan rumput laut.

Pengganti nasi ini yaitu dengan membersihkan rumput laut kemudian dilakukan pengeringan, dan pencetakan menjadi berbentuk beras. Namun, biasanya diperlukan karbohidrat tambahan untuk memperkokoh dan menyamai bentuk beras pada saat pembuatannya. 

Pengolahan rumput laut sebagai pengganti nasi merupakan inovasi yang tepat dan menyehatkan. Selain menangani krisis pangan di masa depan, pertumbuhan penduduk kedepannya juga dapat menerapkan gaya hidup yang lebih sehat dengan mengurangi konsumsi nasi dan menggantinya dengan inovasi ini yang memiliki kandungan yang lebih baik.

Oleh karena itu, pemerintah harus mulai melakukan kajian lebih lanjut mengenai rumput laut sebagai pengganti nasi, sehingga inovasi ini mendapatkan pengolahan dan penggunaan teknologi yang tepat. Selain itu, masyarakat harus mulai dikenali mengenai inovasi ini agar mengetahui bahan pangan yang dapat dikonsumsi saat terjadi krisis pangan. 

Reference: Sanchez, M.D.J., C. Lopez, H.J. Lopez, and L.P. Paseiro. 2004. Fatty acids, total lipid, protein and ash content of processed edible seaweeds. Food Chemistry, 85:439-444. (*)


Pos terkait