Sejak 2020 Belum Serah Terima, Program Pamsimas Lampura Disoal Warga

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Program nasional penyediaan air bersih dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) di wilayah Kabupaten Lampung Utara (Lampura), kini disoal warga. 

Hal tersebut, terpantau di Desa Peraduan Waras, Kecamatan Abung Timur, Lampura. Pasalnya, sejak pelaksanaan di awal 2020 lalu, sampai dengan saat ini belum ada serah terima dari pelaksana kegiatan kepada masyarakat setempat.

Bacaan Lainnya

Anggaran yang berasal dari pusat menelan ratusan juta tak ada manfaatnya kepada penerima manfaat. Selain Pekerjaannya carut marut, kondisi diperparah belum mengalirnya air ke rumah warga.

“Jangankan mau mengaliri air bersih ke rumah-rumah warga mas, tower penampung airnya saja, sampai saat ini saja kosong,” ucap warga yang mengaku bernama Udin (45) warga setempat, Kamis (26/8).

Pria beranak dua ini juga mengaku, dari pertama kegiatan Pamsimas ini saja, menurutnya, banyak sekali permasalahan.

Mulai dari, material hingga pembuatannya tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Buktinya saja, kondisi proyek itu mulai dari ruangan hingga alat kelistrikan dan alat pompa saja saat ini tidak berfungsi.

“Sudah tidak karuan lagi mas. Dimohon kepada Aparat Penegak Hukum dapat segera menyelidiki program kemasyarakatan itu. Sebab, ini sudah nyata merugikan masyarakat desa ini,” kata dia.

Ketua RT 02 Desa Peraduan Waras Kecamatan Abung Timur, Salamun mengatakan, keluhan masyarakat desa ini memang sudah lama. Meski sudah di laporkan ke perangkat desa, namun hingga saat ini belum ada tindak lanjutnya.

“Bagaimana warga tidak mengeluh, program itu seharusnya terealisasi dan memberi manfaat bagi warga pada tahun 2020 lalu. Tapi nyatanya hingga 2021 saat ini, program air bersih itu, belum juga dirasakan oleh warga. Ini jelas proyek gagal mas,” tegasnya.

“Jangankan mau koordinasi, pekerjaan pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sehingga warga tak tahu apa-apa, tahu-tahu sudah ada pipa saja. Sehingga tak terpantau oleh masyarakat, setahu kami cuma sekali keluar air saat pertama ngebor atau istilah disana waktu nguras. Setelahnya, tak ada lagi sampai saat ini,” beber Ketua RT 02 setempat.

Terlebih, sambungnya, menghadapi musim kemarau seperti saat ini, tentunya warga berharap dapat air bersih. Namun, sampai saat ini belum juga harapan warga terpenuhi.

“Untuk apa pemerintah menggelontorkan anggaran ratusan juta, tapi hasilnya O besar. Jadi kami minta, oknum dapat di tindak lanjuti oleh APH,” pintanya.

Pantauan medialampung.co.id, mulai dari lantai berserakan alat listrik tergantung begitu saja, begitupun dengan sekring alat mesin yang dibiarkan begitu saja diluar, hingga nampak bangunan tersebut terbengkalai.

Sementara, untuk aliran pipa dekat dengan tampak diluar tanah yang seharusnya ditanam didalam sehingga rawan rusak dapat menghambat aliran air. Begitupun dengan kadar air sesuai dengan aturan, mengalir pun tidak.

Warga lainnya, Ngadimun menuturkan sejak awal berdiri sampai dengan saat ini mereka belum menerima manfaat program Pamsimas itu. Yakni air bersih yang siap pakai untuk keperluan rumah tangga penerimanya (sasaran), dengan alasan mesin rusak dan sebagainya. 

“Kalau dari awal keadaannya memang begitu mas, kalau pipa-pipa sudah terpasang. Tapi air belum mengalir ke rumah warga,” tambah dia.

Meski tahun telah berganti, sehingga mengundang pertanyaan warga disana. Sebab, itu menggunakan uang berasal dari mereka, namun pelaksanaannya di lapangan tak ada realisasinya.

“Maunya sih cepet mas, ini kan sudah lama. Kok begini, padahal sekarang kan lagi butuh karena kemarau. Dan kebetulan disini masih jarang warga memiliki sumur bor atau air serapan bawah tanah lainnya, maklum kondisi ekonomi warga tak semua baik disini,” ujarnya.

“Jangankan mau koordinasi, pekerjaan pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sehingga warga tak tahu apa-apa, tahu-tahu sudah ada pipa saja. Sehingga tak terpantau oleh masyarakat, setahu kami cuma sekali keluar air saat pertama ngebor atau istilah disana waktu menguras. Setelahnya, tak ada lagi sampai saat ini,” terangnya. 

Terpisah, Sekdes Peraduan Waras Mardiantoro, mengakui sampai saat ini belum ada serah terima dari pelaksana kegiatan kepada masyarakat atau desa setempat. 

Menurutnya, tidak mengalirnya air kepada masyarakat diakibatkan karena ada kerusakan pada mesin. Namun untuk masalah lain, tidak mengetahui secara detail.

“Kalau laporan (disperkim), sudah dilakukan. Mereka disuruh memperbaiki, tapi tidak tahu perkembangannya sampai saat ini. Nah, untuk masalah lain kami belum tahu,” kilahnya.

Informasi dikumpulkan di lapangan, nilai pagu program nasional itu senilai Rp245 juta ditambah dengan dana sharing desa Rp30 juta. Sehingga total anggaran terserap disana Rp275 juta tak terurus dan termanfaatkan dengan baik, sebab, telah habis oleh pengelola. (adk/ozy/mlo)


Pos terkait