Sekkab Pesbar Gelar Audiensi Bahas Penempatan Sastrawan di Daerah 3T

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Pesisir Barat (Pebsar) Ir. N. Lingga Kusuma, M.P., bersama Perwakilan Badan Bahasa Republik Indonesia melaksanakan audiensi terkait pelaksanaan program pengiriman sastrawan berkarya ke wilayah Terpencil, Tertinggal dan Terluar (3T), salah satunya di Kabupaten Pesbar, diruang batu Gughi, Setdakab Pesbar, Jumat (28/8).

Dalam kesempatan itu, Lingga Kusuma mengatakan Kabupaten Pesbar merupakan daerah baru di Provinsi Lampung hasil pemekaran dari Kabupaten Lampung Barat pada tahun 2013 lalu.

Bacaan Lainnya

“Dengan situasi saat ini, berbagai aspek pembangunan di Pesbar sangat perlu ditingkatkan dan dikembangkan, tidak hanya pembangunan berupa fisik melainkan juga pembangunan yang berbasis budaya khususnya dalam bidang bahasa dan sastra,” kata dia.

Dijelaskannya, Kabupaten termuda di Provinsi Lampung itu memiliki kekayaan budaya yang sangat luar biasa, seperti kekayaan bahasa dan sastra. Kabupaten Pesbar memiliki bahasa asli yaitu bahasa lampung dialek pesisir, yang secara umum dikenal dengan bahasa lampung Dialek A.

“Sepanjang wilayah yang membentang dari utara hingga selatan, masing-masing masyarakat memiliki logat tersendiri serta kekayaan sastra yang dihasilkan dari kebudayaan masyarakat setempat,” jelasnya.

Ditambahkannya, karya sastra yang dimiliki masyarakat adat pesisir barat juga beragam jenisnya, ada yang berupa pantun, puisi, hingga teka-teki. Atas dasar beberapa poin tersebut pemerintah daerah kabupaten pesisir barat menyusun Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan (PPKD) pada tahun 2018, yang tujuannya untuk dijadikan sebagai landasan kebijakan pembangunan kebudayaan daerah.

“Dalam bidang kebudayaan Pemkab Pesbar melalui dinas pendidikan dan kebudayaan, mengusulkan peraturan daerah mengenai pelestarian kebudayaan dan kearifan lokal yang di dalamnya terdapat pelestarian bahasa dan sastra daerah yang masih dalam tahap penyelesaian,” terangnya.

Menurutnya, kebijakan-kebijakan tersebut diambil bukan tanpa alasan, tentu saja karena Pesbar sangat membutuhkan kebudayaan sebagai salah satu aspek dalam sebuah pembangunan berkelanjutan. Strategi kemajuan kebudayaan dan kearifan lokal ini tentu saja sangat diperlukan, apalagi dengan bantuan dan kerjasama dari badan bahasa.

“Kami berharap selama satu bulan kedepan bisa menyaring dan menghimpun informasi penting mengenai sastra daerah, yang kemudian disajikan dalam sebuah produk karya sastra dalam berbagai bentuk, dengan tujuan mengembangkan dan melestarikan sastra daerah yang ada di kabupaten ini,” tandasnya. (ygi/d1n/mlo)


Pos terkait