Sempat Terpuruk, Ratu Luwak Kini Menembus Pasar Internasional

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Ratu Luwak Coffee, produsen kopi luwak di Lampung Barat milik Hi. Sapri sempat mengalami masa-masa sulit, sebelum menjadi produsen kopi luwak yang berhasil merangsek ke pangsa pasar nasional hingga internasional dengan produksi sekitar 5-7 ton kopi luwak pertahun, dan kini telah memiliki 12 karyawan tetap.

Ditemui di kediamannya yang juga menjadi lokasi penangkaran Luwak yang beralamat di Gg. Pekonan, Lingkungan Pering Tebak Kelurahan Waymengaku Kecamatan Balikbukit pada Selasa (24/12), Sapri bercerita tentang lika-liku usaha yang dibangunnya sejak 2007 tersebut.

Bacaan Lainnya



Usaha kopi luwak yang digelutinya berawal pada tahun 2007 awal, dimana ia menerima informasi bahwa biji kopi luwak liar, atau yang biasa ditemukan di sekitar perkebunan warga tanpa penangkaran laku dengan harga Rp700 ribu per kilogram.

“Pada tahun pertama itu, total kopi luwak liar yang saya kumpulkan sebanyak 26 kilogram, dengan harga jual Rp700 ribu perkilogram seperti yang dijanjikan oleh mereka yang order sebelumnya,” beber Sapri.

Karena produksi kopi luwak liar terbatas, lalu ia tergerak untuk melakukan penangkaran sehingga kopi luwak yang dihasilkan bisa lebih banyak dan bisa memenuhi permintaan pasar.

“Melalui penangkaran yang saya lakukan dengan jumlah luwak pertama sebanyak dua ekor pada tahun 2008 dan mulai meningkat pada tahun 2009 dan mulai terekspose, kami menghadap ke Dinas Perkebunan untuk meminta dorongan dari pemerintah daerah,” ujarnya.

Permintaan tersebut lalu ditanggapi dengan baik oleh pemerintah daerah, dan melakukan terobosan,  bahkan pemerintah daerah memfasilitasi media-media internasional, dan nasional masuk ke Lambar dan diperkenalkan serta berkunjung ke Ratu Luwak.

“Waktu itu tahun 2009 ada 37 media nasional dan internasional perwakilan media asing, datang ke Lambar, bahkan kami kedatangan NHK Jepang, (TV nasional jepang) dan berlanjut terekspose lebih luas dan menjadi perhatian para penikmat kopi internasional,” kata Sapri.

Lebih lanjut Sapri mengungkapkan, tahun 2010 sempat usaha yang dibangunnya mengalami masa sulit dan bangkrut. Kopi luwak yang ia jual dituding palsu oleh pasar. Hal ini dipicu lantaran produksi kopi luwak yang ia hasilkan semakin meningkat.

“Pasar kaget kenapa kopi luwak bisa banyak, bahkan kopi luwak yang saya jual dibilang palsu, sehingga usaha saya kolep,” sebut Sapri.

Di tengah keterpurukan, ia mencoba introspeksi dan ia menemukan kesalahan, dimana ia memberikan biji kopi tanpa sortir kepada luwak, sehingga biji kopi yang dihasilkan kurang berkualitas dimana banyak yang berwarna hitam.

“Saya belum tahu karakter luwak sebenarnya, dengan klaim adanya kopi palsu, disitu kita intropeksi diri, dan mencari kesalahan kita, dan ternyata biji kopi merah itu banyak yang rusak, dan saya terus mempelajari bagaimana agar hasilnya sesuai dengan permintaan pasar,  dan kami menemukan cara bagaimana menyortir yang rusak dengan menggelimbangan, caranya direndam dan yang mengapung itu diambil untuk dibuang,” tukasnya.

Baru setelah tahun 2012 ia mulai membantah  semua tuduhan itu, khususnya tuduhan dari pasar yang menyebut kopi luwak miliknya palsu. .

“Awalanya kita dapatkan petik merah dan sedapatnya kita berikan kepada luwak, dan sebelum dilakukan sortasi sehingga hasilnya juga cukup baik,” kata dia.

Usahanya kemudian terus mengalami kemajuan, hingga saat ini ia memiliki sebanyak 100 ekor luak, dengan produkai 20-25 kilogram permalam. Omzetyang diraupnya kini berkisar Rp50-Rp60 juta perbulan khusus dari kopi luwak dan memperkerjakan tenaga kerja yang aktif 12 orang, namun pada saat tertentu bisa menjadi 25 orang.

“Alhamdulillah berkat ketekunan usaha kopi luwak kami terus mengalami kemajuan,” pungkas Sapri. (nop/mlo)



Pos terkait