SMAN 1 Waytenong Lakukan Persiapan Program GSMS

  • Whatsapp
Kepala SMAN 1 Waytenong Supandi, S.Pd, M.M.

Medialampung.co.id – Mulai pekan depan direncanakan SMA Negeri 1 Waytenong, Kabupaten Lampung Barat mulai melaksanakan program pendidikan Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS). 

GSMS tersebut cukup jadi pengobat kejenuhan siswa dan guru yang selama ini menjalankan sistem Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara online (Daring) akibat pandemi Covid-19 yang tak kunjung berlalu. 

Bacaan Lainnya

Kepala SMAN 1 Waytenong Supandi, M.Pd., mengatakan, tahun ini SMA sederajat yang memperoleh program GSMS tersebut SMAN 1 Sumberjaya, SMAN 1 Waytenong, SMAN 1 dan 2 Liwa dan SMKN 1 Liwa. 

Dan untuk SMA Waytenong sendiri GSMS yang akan diketuk telurkan kepada anak didik bidang seni tari. “GSMS ini berbeda masing-masing sekolah dan untuk SMAN 1 Waytenong yang akan digiatkan bidang seni tari diantaranya pembelajaran tari daerah yang dikolaborasikan dengan tari modern,” ungkap pihaknya.

Kegiatan GSMS itu sendiri rencananya akan dilaksanakan selama Empat bulan dengan pelaksanaan tiga kali dalam satu pekan (Tujuh Hari) dimana siswa yang akan diberikan pelajaran seni tari adalah siswa pilihan berdasarkan seleksi bakat, atau dalam setiap kegiatan diikuti sekitar Sepuluh orang siswa, sehingga diharapkan tidak terjadi kerumunan yang berpotensi penularan virus corona.

“GSMS ini merupakan program pemerintah, dimana untuk guru pelatih gajinya memang sudah mendapatkan subsidi dari pemerintah, 

Juga bantuan sekolah seperti penyediaan seragam. Nanti setelah tahapan latihan endingnya akan dilaksanakan di Taman Budaya Bandar Lampung,” jelasnya. 

Lanjut Supandi tujuan GSMS diantaranya membudayakan seni budaya. Dengan pola sekolah didatangkan pelatih profesional yang ditunjuk oleh pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud). 

Sementara terkait KBM Luring, Supandi juga menyebutkan pihak sekolah menunggu keputusan Satuan Tugas (Satgas) Kabupaten. “Dalam penentuan diberlakukan kembali KBM tatap muka ada di Satgas Kabupaten yang lebih memahami kondisi wilayah masing-masing. Tentunya jika SD, SMP Sederajat sudah melaksanakan luring SMA juga begitu,” ujarnya. 

Namun demikian Supandi menyampaikan harapan dari pihak sekolah, baik siswa maupun dewan guru. Bagaimana caranya proses KBM sekolah secepatnya secara luring. Sebab dari pengamatan sejak diterapkan KBM Daring, dengan model apapun baik secara Zoom, melalui WhatsApp (WA), tidak maksimal.

Bahkan dibandingkan sebelum Covid-19 sangat banyak sekali dampaknya. “Saya pernah membaca buku dampak Covid-19 yang mengharuskan sistem pendidikan secara Daring. Di Indonesia pendidikan jauh tertinggal, bahkan diprediksi untuk pemulihan pendidikan agar seperti sedia kala sebelum pandemi Covid-19 butuh proses sepuluh tahun. Karena itu saat ini justru banyak orang tua (wali murid) sangat mendukung pemerintah kembali menerapkan KBM Luring dengan mengedepankan protokol kesehatan (Prokes),” tandasnya. (r1n/mlo)


Pos terkait