Soal Pengerjaan Galian Pipa, PDAM Way Rilau Angkat Bicara

  • Whatsapp
Direktur Teknik PDAM Way Rilau Suparji

Medialampung.co.id – Tim penggalian pipa tersier milik PDAM Way Rilau yang terkesan lambat merapikan bekas galian mengakibatkan banyak aktivitas warga yang terganggu.

Masih adanya tanah yang berserakan di badan jalan membuatnya licin saat turun hujan dan membahayakan pengguna jalan yang melintas.

Bacaan Lainnya



Direktur Teknik Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) PDAM Way Rilau Suparji menjelaskan, pihaknya kekurangan tenaga yang bertugas untuk merapikan bekas galian tersebut.

Dia juga memaklumi kalau ada yang protes dari masyarakat apabila wilayahnya terkena galian pipa tersier milik kami itu. 

“Memang kita ini kekurangan tenaga untuk perapihan dan kalah cepatnya dengan tenaga penggalian dan pemasangan pipa,” jelasnya, Kamis (25/6)

Dalam proses pemasangan pipa tersier tersebut, lanjutnya, terdapat empat kelompok kerja atau tim, antara lain tim penggalian dan tim pemasangan pipa, tim perapihan serta tim finishing dan penyambungan pipa.

“Penggalian dan pemasangan pipa tersier itu ada 200 orang yang dibagi dalam 10 kelompok, mereka kerja hingga jam 9 malam. Ada perbedaan memang dengan kelompok perapihan yang hanya ada lima kelompok. Kerjanya sampai sore. Akhirnya kelompok ini kewalahan,” tuturnya.

Suparji juga mengaku, dalam sehari lebih dari 10 warga yang memprotes dan meminta untuk segera dituntaskan karena di musim hujan seperti sekarang sudah pasti akan membuat jalan warga menjadi becek.

“Kami di pengawasan memantau dan memaksa pelaksana proyek agar cepat menuntaskan komplain warga, tapi ya itu faktanya masih banyak warga yang komplain, kami mohon maaf,” kata Suparji.

Sebagai PPK, Suparji mengaku setiap hari melakukan pemantauan agar proyek tersebut tidak mengganggu aktivitas masyarakat bahkan dia juga menyempatkan untuk turun ke lapangan

“Saya selalu menginstruksikan kepada pelaksana dan konsultan untuk segera memperbaiki bekas galian terutama di jalanan strategis, di depan rumah, garasi dan jalan utama,” ujarnya.

Proyek pipa tersier PDAM Way Rilau yang senilai Rp71 miliar sepanjang 501 Km melintas di lima kecamatan itu, dijelaskan Supardi penggaliannya menggunakan sistem terbuka, namun dampaknya di musim penghujan sangat mengganggu aktivitas masyarakat.

“Dalam pelaksanaan penggalian kami menggunakan sistem terbuka berbeda dengan PGN yang menggunakan sistem tertutup. Kenapa pakai terbuka karena lebih murah. Untuk tempat-tempat tertentu saja seperti pintu masuk ke rumah dan garasi dan di persimpangan jalan, baru kami gunakan sistem penggalian tertutup,” ujar Direktur Teknik PDAM Way Rilau, Suparji.

Di tempat terpisah, Saras (32) warga Way Halim, Kecamatan Kedaton mengeluh dengan penggalian pipa yang kata dia mengganggu jalan masuk ke rumahnya.

“Habis digali kok ditinggal saja, sekarang kan musim hujan jadi becek lah jalan ini, kita sih maunya dirapikan kembali paving blok jalan kami ini,” harapnya.

“Ada juga pak, tetangga saya terpaksa memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, mobilnya tidak bisa masuk karena tertutup tanah galian pipa,” tandasnya.(*/mlo)



Pos terkait