Solusi Hentikan Konflik, Warga Minta Pemindahan 12 Ekor Gajah

  • Whatsapp
foto ilustrasi

Medialampung.co.id – Konflik Gajah dengan Manusia di Kecamatan Suoh Lampung Barat khususnya di Pekon Roworejo dan Sidorejo tak pernah usai.  Tercatat selama kurun waktu tahun 2019 lalu, terjadi tiga kali konflik dengan kerugian materi dialami masyarakat cukup besar, dan memasuki tahun 2020 tepatnya di bulan Maret ini terjadi konflik kembali.

Setiap kali terjadi konflik, gajah liar kerap memasuki perkebunan warga dan merusak tanaman hingga meneror warga dengan mendekati permukiman. Jumlah dari kawanan gajah tersebut sebanyak 12 ekor dan menjadikan wilayah Pekon Roworejo dan Sidorejo sebagai jalur perlintasan termasuk tempat mencari makan.

Bacaan Lainnya



Lelah dengan terus terjadinya konflik gajah, masyarakat meminta kepada Pemerintah pusat dan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BB-TNBBS) untuk melakukan relokasi terhadap kawanan gajah tersebut. Dengan begitu,masyarakat akan lebih nyaman dalam melakuka aktifitas dan tidak terus merugi karena tanaman atau rumah mereka dirusak oleh satwa berbelalai tersebut.

”Tentu kami dan masyarakat sangat berharap kawanan gajah tersebut bisa direlokasi ke tempat lain, karena ini sudah sangat meresahkan dan setiap tahun pasti terjadi konflik, tahun lalu saja tiga kali terjadi dan tahun ini sudah satu kali dan saat ini berada di Pekon Sidorejo. Penyebabnya masyarakat merugi, dan juga merasa was-was saat melakukan aktifitas seperti bertani,” ungkap Camat Suoh Novi Andri, SKM, M.Kes.

Sejauh ini, kata dia, pihaknya bersama masyarakat tidak bisa berbuat banyak selain menghindar demi keselamatan, upaya menghadapi konflik hanya sebatas upaya sederhana seperti melakukan penjagaan pada pintu masuk permukiman, menyalakan api unggun saat malam hari dan melakukan bunyi-bunyian dengan harapan kawanan gajah tidak terus mendekat dan bisa menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan.

”Dampak yang paling besar dirasakan oleh masyarakat terkait keberadaan kawanan gajah tersebut yakni masyarakat banyak yang tidak berani melakukan aktfitas di kebun, hal ini tentunya merugikan masyarakat. Belum lagi tanaman mereka seperti pisang dan lainnya harus dirusak dan habis dimakan oleh gajah, dan khawatirnya jika terus dibiarkan maka akan jatuh korban,” ujarnya.

Menghadapi konflik gajah yang terjadi, kata dia, pihaknya tidak henti-hentinya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan tidak melakukan hal-hal yang bisa menyebabkan kawanan gajah tersebut berubah menjadi beringas yang bisa menyerang manusia.

”Kami melakui aparat pekon juga terus mengimbau agar waspada, jangan sampai melakukan hal-hal yang dilarang seperti mendekati dan juga melempar kawanan gajah karena itu akan sangat berbahaya dan bisa berbalik dan menyerang,” kata dia.

Belum lama ini, Tokoh Masyarakat Rowo Rejo Kardi dihadapan bupati Lambar Parosil Mabsus mengatakan, keberadaan gajah di  daerah itu  sangat meresahkan masyarakat, dan bisa melumpuhkan roda perekonomian masyarakat.

”Kami sangat  resah dengan keberadaan gajah, kami  minta persoalan ini dicarikan solusi  dan kalau bisa gajah itu dipindahkan  sehingga masyarakat bisa nyaman dalam melakukan aktifitas,”  ujarnya. (nop/mlo)



Pos terkait