Stop Mei

  • Whatsapp

Seperti Yesus menghentikan topan dan gelombang yang mengguncang perahuNya. “Angin, diamlah! Gelombang, berhentilah!” ujar Niko menirukan hardikan Yesus kala itu. Lengkap dengan ekspresi ketegasan dan suara bentakannya.

Saat itu juga, kata Niko, topan dan gelombang berhenti.

Maka di tengah pandemi Covid-19 yang menggila ini pun Niko mengaku dibisiki Yesus. Untuk menghentikannya.

“Maka saya berkata kepada Covid-19. Diamlah! Berhenti!,” teriaknya seperti menghardik Covid-19.

Khotbah itulah yang dikritik Pendeta Stephen Tong.

“Kalau ia memang bisa menghentikan Covid-19, coba kumpulkan ribuan penderita Covid-19 di Gelora Bung Karno. Sembuhkan!,” tantang Pendeta Tong.

Pokoknya serulah. Lihat sendiri videonya di YouTube.

Ramai.

Belum lagi pendeta-pendeta lain yang ikut nimbrung. Ada yang membela Niko ada yang di belakang Tong. Ada juga yang mencari jalan tengah –tapi jatuhnya di seberang semuanya.

Salah satu di antara pendeta itu ada yang menghubungkan Covid-19 dengan gerakan anti-Kristus. Katanya: dengan Covid ini akan ada alasan dari pihak yang anti-Kristus untuk memasang chip di dahi dan di lengan manusia.

Itu, katanya, persis seperti yang digambarkan dalam Injil –Wahyu 6, ayat 16-18.

Apa kesimpulan pendeta itu? “Turunnya Tuhan Yesus yang kedua sudah dekat,” tegasnya.

Artinya, kiamat sudah dekat.

Siapa golongan anti-Kristus yang dimaksud?

Tak lain persis seperti yang digambarkan dalam novel DaVinci Code: Golongan Primasoni!

Dari episode ini Islam ternyata tidak memusuhi Kristen. Dan Kristen tidak memusuhi Islam.

Mereka lagi punya musuh bersama: musuh yang tidak tampak di mata.(Dahlan Iskan)




Pos terkait