Sunayah Sampaikan Kerugian Akibat Jebolnya Tanggul Cekdam Warassakti

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Selain karena tingginya intensitas hujan. Diduga tidak maksimalnya gorong-gorong menjadi faktor penyebab jebolnya tanggul Cekdam Warassakti, Pekon Ciptawaras, Kecamatan Gedungsurian, Kabupaten Lampung Barat, hingga merusak tiga hektar areal sawah warga dengan persentase kerugian Rp175 juta. 

Diketahui pada Rabu (17/3), dinding cekdam setempat yang juga jalan penghubung Pemangku Ciptawaras dengan Warassakti jebol. Tumpahan air bah, disertai lumpur menutupi lebih kurang Tiga hektar areal persawahan di bawahnya, dan menyebabkan petakan sawah tertimbun material tanah. 

Bacaan Lainnya


Peratin Ciptawaras Sunayah menyebutkan dinding cekdam tersebut dibangun pemerintah 2019 lalu. Namun saat pembangunan gorong-gorong di bawah tidak ikut dibangun. Dan sangat dimungkinkan akibat kondisi jalur air yang sudah termakan usia dan volume air yang tinggi karena hujan, gerusan semakin cepat dan menyebabkan tanggul jebol.

“Berdasarkan hasil pendataan sementara sebanyak 17 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak sawahnya rusak. Beruntung meski petakan sawah tertimbun tanah, warga telah menyelesaikan panen, tapi dilihat kerusakan lahan. Kerugian ditaksir mencapai Rp175 juta, belum termasuk kerugian kerusakan tanggul dan jalan,” ungkapnya.

Terkait itu, setelah pendataan kerugian selesai dilakukan. Sunayah akan menyampaikan laporan kejadian bencana itu kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lambar.

Dengan harapan, pertama perbaikan kembali tanggul, sebab cekdam berfungsi sebagai sumber pengairan sawah, (irigasi) dan lebih utamanya akses jalan penghubung antar pemangku.

“Dengan putusnya tanggul cekdam ini warga dua pemangku tersebut harus berputar lewat jalur lain dengan jangkauan lebih panjang, dan itu sangat merugikan dari waktu dan biaya transportasi,” katanya.

Kemudian harapan lainnya untuk upaya perbaikan kembali areal sawah yang tertimbun longsor. Lantaran upaya perbaikan dilaksanakan secara manual membutuhkan waktu yang sangat lama, secara otomatis merugikan warga dalam penggarapan sawah. (r1n/mlo)




Pos terkait