Tiga dari 12 Ekor Gajah yang Meneror Warga BNS Terindikasi Hamil

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) bersama petugas dari Wildlife Conservation Society (WCS), Yayasan Badak Indonesia (YABI), Mahout (pawang gajah), kepolisian, TNI, Anggota DPRD Lambar Sugeng Hari Kinaryo Adi, aparat kecamatan dan pekon, Satgas Penanggulangan Bencana (PB) pekon, dan petugas lainnya melakukan penggiringan kawanan gajah liar yang meneror warga Kecamatan Bandarnegeri Suoh (BNS) sejak 10 hari terakhir.

Kepala TNBBS Resort Suoh Sulki mengungkapkan, penggiringan kawanan gajah tersebut dilakukan pada siang hari, dan untuk posisi terakhir, kawanan gajah yang berjumlah 12 ekor tersebut berada di Gunung Loreng atau berada sekitar satu kilometer dari pemukiman penduduk. 

Bacaan Lainnya

“Hari ini kami melakukan penggiringan kawanan gajah tersebut, dan saat ini berada di sekitar Gunung Loreng, kami terus berupaya agar kawanan tersebut bisa  lebih masuk ke dalam hutan rimba Taman Nasional,” ungkap Sulki. 

Menurutnya, dari pantauan pihaknya saat proses penggiringan, tiga dari 12 ekor gajah tersebut terindikasi sedang hamil. Sehingga penggiringan dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Selain itu kendala dalam proses penggiringan yakni logistik berupa petasan atau mercon yang efektif digunakan. 

“Belum lagi lokasi gajah yang berada di daerah terjal, sehingga perlu kehati-hatian khususnya terkait dengan keselamatan petugas yang melakukan penggiringan,” kata dia. 

Dalam proses penggiringan tersebut, lanjut Sulki, pihaknya juga sebelumnya telah mewanti-wanti masyarakat untuk tidak melakukan aktifitas di titik-titik yang berpotensi menjadi jalur perlintasan gajah saat proses penggiringan berlangsung agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 

“Kami juga membentuk beberapa tim, untuk melakukan blokade seperti daerah Way Tuwing agar kawanan gajah bisa mengarah ke dalam hutan rimba,” ujarnya. 

Terkait dengan penyebab turunnya kawanan gajah tersebut ke pemukiman penduduk, menurut Sulki, itu bukan disebabkan karena tidak adanya makanan di dalam TNBBS, melainkan tanaman padi milik petani wilayah BNS saat ini sedang berbunga yang menjadi salah incaran dari kawanan gajah tersebut. 

“Gajah itu dari jarak dua kilometer saja indra penciumannya sangat kuat, jadi kemungkinan besar itu karena tanaman padi petani di BNS sedang berbunga dan mereka mengincar itu, jadi bukan karena makanan di atas (TNBBS) tidak ada, kalau bahan makanan banyak,” tegasnya. 

Sementara, Camat BNS Wahyudi Heru Iskandar mengungkapkan, kawanan gajah tersebut masih berpotensi untuk kembali mendekati permukiman saat malam hari, karena itu petugas dan masyarakat melakukan blokade saat malam hari agar kawanan gajah tersebut bisa terus menjauh dari pemukiman. 

Hanya saja, kata dia, dalam upaya penghalauan dan blokade kawanan gajah tersebut masih terkendala logistik, berupa petasan atau mercon yang sangat efektif digunakan dalam menghalau satwa berbelalai tersebut. Selain itu juga terkendala dengan logistik bahan makanan, mengingat jumlah warga yang terlibat setiap malamnya mencapai 100 orang lebih. 

“Untuk melakukan penghalauan kawanan gajah tersebut membutuhkan bunyi-bunyian seperti petasan atau mercon, nah untuk saat ini petugas di lapangan terkendala mendapatkan itu. Kemudian bantuan dari Pemda sepuluh paket sembako sudah habis,  jadi menjadi kendala juga karena setiap malam 100 orang lebih yang ikut ronda untuk memblokade kawanan gajah tersebut,” kata Heru. (nop/mlo)


Pos terkait