Tiga Sifat Utama Sebagai Kemenangan Puasa Ramadhan

  • Whatsapp

Oleh : Maryan Hasan, S. Ag. M.Pd.I

(Kepala Subbagian TU Kementerian Agama Lampung Barat)

Bacaan Lainnya



 

Beberapa hari lagi kita akan berpisah dengan bulan suci Ramadhan, bulan yang dipenuhi rahmat Allah disamping maghfirahnya sehingga hamba-hamba yang telah memenuhi panggilannya dibebaskan dari ancaman api neraka. 

Bulan Ramadhan merupakan bulan peleburan dosa karena dibulan tersebut kita lebih serius bertaqwa kepada Allah (la’allakum tattaqun), sehingga kita keluar dari bulan Ramadhan dengan predikat muttaqin dan kembali pada fitrah disaat memasuki hari pertama bulan Syawal yaitu Iedul Fithri, sebagaimana seorang bayi manusia keluar dari alam rahim memasuki pintu alam dunia kullu mauludin allal fitrah setiap anak yang dilahirkan adalah dalam keadaan suci dengan keadaan yang demikian itulah kita masuki bulan Syawal bulan peningkatan serta bulan-bulan selanjutnya untuk lebih meningkatkan amal ibadah selaku manipestasinya taqwa dibulan Ramadhan sekedar ibadah musiman atau gebrakan Ramadhan dan begitu berpisah dengan Ramadhan maka berpisah pula dengan ibadah.

Ramadhan Yang Penuh Kemenangan

Dengan selesainya kita menunaikan puasa sebulan penuh dibulan Ramadhan, yang kemudian diakhiri pelaksanaan mengeluarkan zakat fitrah, maka semakin tinggilah kesadaran kita selaku hamba Allah untuk memahami arti dan makna hidup ini, bahwa kehadiran kita di dunia ini adalah semata-mata harus dan wajib tunduk serta patuh akan ketetapan Allah Maha pencipta, Robbul Alamin. Puasa yang diwajibkan bagi orang yang beriman penegak sholat, kemudian diakhiri dengan zakat fitrah, ditambah dengan kewajiban-kewajiban lainnya berupa amal makruf nahi mungkar, maka setidak-tidaknya telah tertunai empat rukun Islam beserta jihadnya sekaligus.

Walaupun di bulan lainnya tidak akan kita jumpai ibadah yang sesempurna di bulan Ramadhan, namun akibat yang ditinggalkan Ramadhan seseorang akan semakin serius dan bergairah untuk beribadah dikarenakan  imannya semakin teguh dan istiqomah, sehingga lahirlah pribadi yang konsekuen dan konsisten terhadap Dienul Islam, menjadilah ia peribadi yang Uswatun Hasanah, sebagai Insanul Kamil, manusia yang tahu akan harga dirinya, selaku muslim sebenar-benarnya muslim yaitu seseorang yang telah terpelihara hati, lidah dan tangannya dari sifat dan perkataan serta perbuatan yang tercela.

Kenang-kenangan Rahmadhan

Pada suatu ketika Rasullullah SAW sedang berkhutbah di mimbar Jumat awal bulan Ramadhan, datanglah malaikat Jibril seraya menyuruh Rasulullah SAW untuk mengaminkan do’a yang akan dipanjatkan oleh Jibril  Ya Allah  Ya Tuhan kami, Janganlah Engkau terima puasanya setiap anak yang durhaka terhadap kedua orang tuanya, jangan Engkau terima puasanya setiap Suami Istri yang bersengketa dan janganlah engkau terima puasanya setiap tetangga yang saling bermusuhan satu-sama lainnya. Amin, amin, Ya Robbal ‘Alamin, sambut Rasulullah SAW.

Kejadian tersebut sangat mengundang perhatian jama’ah kaum muslimin yang menyaksikannya sehingga setelah shalat, para sahabat berkerumun mengelilingi Rasulullah SAW dan mengajukan berbagai  pertanyaan kepada beliau.

Manakah amal-amal yang utama untuk kami amalkan Ya Rasullulah?  Insya Allah apa yang dimaksudkan do’a Jibril tadi kiranya kami sanggup laksanakan tetapi barangkali ada lagi yang lebih utama dari amal-amal tersebut. Kemudian Rasullulah menerangkan bahwa afdhalul fadhaa’il tsaalaasin yang paling utama dari yang utama ada tiga perkara antara lain :

‘1. Bersilaturahmi dengan orang-orang yang telah memutuskan hubungan denganmu

Ketahuilah bahwa Allah telah berfirman Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (QS. Al-Hujurat, Ayat : 10). Dan barangsiapa yang memutuskan hubungan silahturahmi dengan saudaranya sesama mukmin maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya demikian penjelasan Rasulullah.

Ketahuilah bahwa masuk kedalam permusuhan itu semuda-mudah pekerjaan dan keluar dari padanya adalah sesukar-sukar urusan dan urusan atau perkara yang mengandung keadilan itu ialah menghormati hak orang lain walaupun persoalan kecil, memenuhi segenap perjanjian dan mengakui kebaikan orang lain menghalangi kejahatan yang akan menimpa orang lain  dan pandai membalas jasa atau budi orang lain.

2. Memberi kepada orang-orang yang tak mau memberikan sesuatu kepadamu

Zakat fitrah yang ditunaikan di akhir Ramadhan adalah merupakan suatu bukti bahwa Islam itu mengajarkan keutamaan dan kerelaan berkorban terhadap sesamanya tanpa pandang bulu yang hanya didasarkan atas taqwallah sebagaimana disinyalir dalam Al-Qur’an yang berbunyi :

‘’Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti perasaan si penerima. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka, tidak ada kehawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan perasaan si penerima Allah maha kaya lagi maha penyantun” (QS. Al-Baqarah, ayat : 262-263.)

Memberi atau bersedekah kepada kerabat atau orang yang disenangi adalah wajar, akan tetapi kerelaan memberi  atau bersedekah kepada orang yang tidak simpati, adalah suatu urusan yang luar biasa Islam mengajarkan air yang hanya cukup untuk berwudhu lebih mulia diberikan kepada anjing yang menderita kehausan untuk diminum dan lakukanlah shalat dengan cukup bertayamum. Demikianlah keluhuran dan kebesaran Islam mendidik umatnya untuk senantiasa memiliki jiwa berkorban demi tegaknya ’’Islamic society’ ’masyarakat marhamah makmur sejahtera dibawah panji-panji Islam.

3. Memaafkan orang yang pernah memaki dan menyakitimu

Watashfaha‘amman tasyamaka / wa’fu amman dhalamakum, ma’afkanlah siapa yang memakimu atau siapa yang membuat dhalim kepada kamu, demikian Nabi mengingatkan. Perlakuan orang-orang musyrik qurais  terhadap Rosulullah dimasa-masa permulaan Islam di Mekah sungguh diluar batas kesopanan. Pernah beliau dilempar batu oleh masyarakat /penduduk Tha’if sehingga kaki beliau berdarah  luka kena lemparan batu, tetapi beliau tidak sakit hati karena walaupun kemudian datang malaikat  Jibril minta kepada Nabi diizinkan supaya kota Tha’if beserta penduduknya ditimpah gunung sebagai akibat perlakuan mereka terhadap Rasulullah SAW, namun dicegah oleh Rasulullah beliau seraya  bersabda :  “Aku maafkan mereka dan semoga diampuni Allah dan agar mereka diberi hidayah oleh-Nya perlakuan dan sikap mereka yang demikian itu, tidak lain karena mereka bodoh dan berada dalam kegelapan”.

Sungguh luar biasa, apabila seseorang telah berpribadikan Islam sebagaimana kisah yang terjadi pada diri Rasullulah SAW disaat berkecambuknya perang Hunain ada salah seorang lasykar (tentara) Islam tanpa sengaja menginjak kaki Rasulullah yang turut berperang sebagai komandan /panglima dikala itu, begitu sakit dan kagetnya beliau karena terinjak kakinya maka secara spontan lasykar tadi terkena cambuk Rasullulah. Setelah kembali ke kemah tempat beristirahat, Rasullulah SAW bertanya kepada para tentara bahwa siapa yang merasa terkena cambuk beliau disaat berkecambuknya perang siang tadi maka dengan rasa  takut dan khawatir akan dicambuk lagi tampilah seorang pemuda seraya berkata aku bersedia menerima hukuman apapun ya Rasulullah, karena tadi aku tidak sengaja menginjak kaki junjungan. Dengan tak disangka serta merta memberikan cambuknya kepada pemuda tersebut untuk membalas pukulan kepada punggung nabi, karena pemuda tadi tidak bersedia melakukannya, maka Nabi berkata kemudian, bahwa daku talah memaafkan engkau, dan nanti terimalah delapan puluh ekor unta sebagai hadiah imbalan kena pukulan cambukku kata Rasulullah.

Demikianlah sekelumit kisah yang dapat kita ambil hikmahnya dari peristiwa luar biasa ini sebagai kenangan Ramadhan, dengan harapan tentunya kita akan berusaha dan mencoba untuk senantiasa meneladani sifat-sifat yang agung yang telah dicontohkan oleh Rasullulah tersebut, yang nantinya tidak hanya sekedar kenang-kenangan, namun lebih dari itu akan kita jadikan sebagai sifat dan sikap kepribadian kita. Insya Allah Taqabballah Minna Wamikum, Taqabbal Ya Kariem.



Pos terkait