Torakur Diajukan ke Bursa Inovasi Nasional

  • Whatsapp
Tim Pelaksana Inovasi Desa Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat melakukan capturing produk inovasi olahan Tomat Rasa Kurma (Torakur) di Pekon Bandarbaru untuk diajukan ke Bursa Inovasi Nasional belum lama ini. - Foto Doc

Medialampung.co.id – Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat melakukan capturing produk inovasi olahan Tomat Rasa Kurma (torakur) di Pekon Bandarbaru untuk diajukan ke Bursa Inovasi Nasional. Upaya itu dilakukan untuk memperkenalkan hasil inovasi desa di wilayah setempat, yang  diharapkan dapat menang dan menjadi produk inovasi yang dikenal masyarakat luas.

Seperti diketahui, Guna meningkatkan kegemaran memakan sayur di kalangan masyarakat, sekaligus menjadi solusi saat harga tomat anjlok, Lilik Puji Astuti sang pemilik inovasi berhasil mengolah tomat menjadi produk makanan yang diberi nama Torakur. Bahkan berkat kreatifitasnya dalam menampilkan produk olahan makanan pada perhelatan Liwa Fair tahun 2019. Sebelumnya, Stand Kecamatan Sukau berhasil meriah juara II pada lomba inovasi daerah tingkat  kabupaten dalam kategori pangan.

Bacaan Lainnya



Hal inilah yang melatar belakangi TPID Kecamatan sukau untuk mengangkatnya menjadi salah satu contoh inovasi desa yang patut di tiru oleh pekon lainnya.

“Kita capturing kemudian kita sampaikan ke pemerintah pusat bahwa ini salah satu produk inovasi desa di kecamatan sukau, harapannya bisa memberikan hasil terbaik dan menang, karena kalau berhasil maka bukan tidak mungkin ini akan menjadi produk nasional dan masyarakat bisa belajar kesini,” ungkap pendamping desa bidang pemberdayaan Syaiful.

Ia juga menambahkan jika kegiatan ini dikelola dengan cermat dan pihak pekon mampu membantu proses pemasaran, maka akan ada pendapatan asli pekon yang muncul dari kegiatan ini.

“Maka kami berharap dengan banyaknya UMKM di wilayah ini, pemerintah pekon bisa mengambil peluang, misal mengoptimalkan peran Badan usaha milik pekon untuk menjaring produk lokal agar dikenal luas,” tambah Syaiful.

Sementara, ketua TPID Sukau Samsul mengatakan, Pemerintah pusat memiliki keinginan untuk memajukan desa-desa di Indonesia. Salah satu langkahnya Guna mengoptimalisasikan pemakaian dana desa, pemerintah melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi menggulirkan Program Inovasi Desa (PID). Program ini telah dilaksanakan sejak 2017 di bawah naungan Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD).

“Program ini hadir sebagai upaya untuk mendorong peningkatan kualitas pemanfaatan dana desa. Dengan memberikan banyak referensi dan inovasi-inovasi pembangunan desa, diharapkan mampu memantik kreatifitas desa dalam mengoptimalkan berbagai potensi yang dimiliki,” terangnya.

Seperti diketahui, Guna meningkatkan kegemaran memakan sayur di kalangan masyarakat, sekaligus menjadi solusi saat harga tomat anjlok, berbagai inovasi olahan makanan dihasilkan TP-PKK Pekon Bandarbaru, Salah satunya mengolah tomat menjadi produk makanan yang diberi nama Torakur.

Lilik Puji Astuti, selaku penggiat usaha mengatakan munculnya inisiatif untuk membuat usaha produk olahan makanan dengan berbahan dasar tomat itu bermula dari keperihatinan terhadap petani tomat yang kerap  membuang salah satu kebutuhan dapur tersebut karena harganya anjlok.

“Awalnya prihatin karena selama ini kalau harga tomat anjlok biasanya petani membiarkan buah tersebut busuk di batang atau di buang ke tempat penampungan sampah, sehingga dari pada mubazir timbul inisiatif kami untuk mengolahnya menjadi produk makanan,” terang Lilik.

Disamping itu, kata dia,  produk makanan ini juga diproduksi untuk meningkatkan kegemaran masyarakat untuk mengkonsumsi sayur-sayuran. Untuk proses pembuatan, pada mulanya pihaknya membelah biji tomat kemudian memisahkan bijinya , yang diolah menjadi menjadi dodol, sementara pada bagian daging dan kulit tomat di rendam di air kapur, kemudian direbus beberapa menit kemudian ditiriskan lalu dijemur,

“Setelah melalui tahapan perebusan kita jemur setengah kering baru kemudian dibentuk seperti kurma dengan tambahan sejumlah bahan makanan lainnya,” terangnya .

Saat ini, kata dia, proses produksi masih  dalam batas lokal, namun tidak sedikit pula konsumen dari luar daerah sudah mulai memesan seperti dari daerah Provinsi Banten. “Sudah sempat keluar daerah, tapi baru beberap kali, untuk saat ini kami masih aktif untuk memenuhi pemesanan lokal saja,” imbuhnya.(edi/mlo)



Pos terkait