Twist Again

  • Whatsapp

Tidak ada pembantu wanita di rumah. Istri saya terlalu jagoan untuk urusan dapur, taman, dan rumah.

Pukul 06.00 kurang lima menit saya berangkat ke tempat senam. Bersama istri.

Sejak sebulan lalu kami sudah membuat peraturan ketat di grup senam kami: tidak usah saling salaman.

Dan sejak 10 hari lalu aturan itu ditingkatkan: senamnya harus saling jaga-jarak-aman-Corona. Saat foto bersama pun harus berjauhan.

Kami juga mengikuti saran dokter: cari tempat senam yang ada terik mataharinya. Untuk memperoleh tambahan vitamin D. Agar bisa menambah imunitas.

Kadang, sambil ”berjemur” itu saya tersenyum sendiri: tadi pagi saya minum obat penurun imunitas, kok sekarang ingin menambah imunitas.

Senam itu nonstop. Selama satu jam penuh. Tiap hari –kecuali Senin. Senamnya senam dansa. Lagunya campuran. Barat, Mandarin, dangdut, India, Latino –semua ada. Mulai dari Twist Again (Lihat video), Xiao Ping Guo, sampai Bojo Anyar.

Suatu hari kami ingin mencoba memainkan semua lagu yang kami punya. Bagi yang tidak kuat boleh berhenti di tengah jalan. Ternyata diperlukan lebih 3 jam nonstop. Separo anggota grup kami kuat sampai selesai –termasuk saya.

Untung olahraga kami senam. Bisa berjauhan. Bagaimana bisa main sepak bola berjauhan.

Kami, 4 orang, lockdown bersama. Pak Man yang hampir 80 tahun juga sehat.

Mobil kami tidak pernah dimasuki orang lain –selama lockdown.

Kalau kami merasa bosan di rumah saya ingat astronot. Yang setahun lamanya sendirian di luar angkasa. Ia di dalam sebuah kapsul yang tidak sebesar rumah manusia.

Sekarang saya tambah ingat satu lagi: Aminarto. Yang kuat puasa mutih 40 hari. Yang tiap hari hanya makan 2 potong singkong kukus.

Apalah artinya lockdown dibanding dua contoh itu.

Bagi yang membayangkan lockdown itu harus tetap enak, mungkin mimpi hidupnya memang serba enak:

Waktu kecil bisa dimanja.

Waktu muda bisa foya-foya.

Waktu tua kaya raya.

Waktu mati masuk surga. (dahlan iskan)




Pos terkait