Update Covid-19 di Lambar, Enam Orang Reaktif Tunggu Hasil Swab

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Gugus Tugas Percepatan Penanganan Coronavirus Disease (Ciovid-19) Kabupaten Lampung Barat, melakukan konferensi pers terkait perkembangan terkini  kasus Covid-19 di kabupaten setempat,Sabtu (23/5/2020).

Konferensi pers, yang dihadiri langsung Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Paijo, SKM, M.Kes.,  didampingi Sekretaris Gugus Tugas yang juga Kepala BPBD Lambar  Maidar, SH, M.Si.,  dan Plt. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Padang Prio Utomo, SH., dan tersebut sekaligus menjawab pesan berantai yang sempat   meresahkan masyarakat di jejaring media sosial khususnya WhatsApp beberapa waktu lalu.

Bacaan Lainnya



Dalam kesempatan itu Jubir Gugus Tugas Paijo menjelaskan terkait dengan awal mula adanya enam orang yang dinyatakan reaktif covid-19, yang diawali dengan adanya pasien Nyonya R warga Kota Batu Kabupaten OKU Selatan (sudah meninggal dunia) yang  dinyatakan  Positif Covid-19  oleh RS Mardi Waluyo Kota Metro, dimana sempat dirawat di RSUD Alimuddin Umar.

”Pada tanggal 24-28 April nyonya R dirawat di ruang Penyakit dalam RSUD Alimuddin Umar, namun karena kondisinya menurun maka dirawat di ICU pada tanggal 28 April, untuk diagnosa awal dari pasien ini ada peradangan di saluran  empedu, dan  peradangan di saluran pankreas, tidak menunjukkan adanya hal-hal yang berkaitan dengan covid-19,” ungkap Paijo.

Setelah menjalani perawatan di  ICU, kata dia,   pada tanggal 5 Mei pihak keluarga memutuskan untuk merujuk ke RS Mardi Waluyo Kota Metro. Di rumah sakit tersebut pasien tersebut dilakukan rapid test,  pertimbangan dilakukan  rapid test katema saat ini wilayah OKU masuk dalam transmisi lokal.

”Ketika sudah dilakukan rapid test maka menunjukkan reaktif, dan kemudian rumah sakit Mardi Waluyo memberitahukan ke RSUDAU  jika itu reaktif, dan sebanyak 51 orang tenaga medis di RSUD Alimuddin Umar dilakukan rapid test, sembari menunggu hasil swab dari nyonya R keluar,” ujarnya.

Namun rentang waktu antara Swab yang dilakukan dengan hasilnya cukup panjang, dimana hasil Swab nyonya R baru keluar pada tanggal 20 Mei bahkan itu setelah nyonya R meninggal dunia. Keterlambatan itu dikarenakan alat untuk memeriksa PCR di Palembang mengalami kerusakan dan seluruh Lampung juga mengalami keterlambatan.

”Dalam mengantisipasi  kemungkinan nyonya R ini positif sebelum hasil Swab keluar, maka  dinas kesehatan melakukan tracing yang dengan yang sempat kontak  yang erat dengan pasien, dan salah satu dokter praktek mandiri, dan orang-orang   yang sempat menemani pasien, namun hingga  hingga rapid test kedua dilakukan  bahkan hingga hasil swab keluar hasilnya negatif,” bebernya.

Lalu, pihaknya melakukan rapid test terhadap 51 tenaga medis berdasarkan data yang ada, dan ditemukan dua orang tenaga medis reaktif. Lalu, pihaknya melakukan rapid test terhadap  keluarga keduanya dan ditemukan suami dan satu orang balita juga reaktif.

Pihaknya menelusuri lebih lanjut, dimana   suami dari salah satu tenaga medis di RSUD Alimuddin Umar yang merupakan pegawai di Diskominfo Lambar maka pihaknya melakukan rapid test terhadap  para pegawai Diskominfo, dan hasilnya negatif. Hanya saja,  satu orang diluar  Diskominfo yakni di Dinas KBPP dan PA justru reaktif.

”Mereka telah dilakukan Swab dan  sudah dikirimkan, namun  sampai hari ini hasilnya belum keluar,” imbuhnya. (nop/mlo)



Pos terkait