UPTD KRL Lambar Tambah Koleksi Bunga Bangkai

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Kebun Raya Liwa (KRL), Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kabupaten Lampung Barat (Lambar) langsung merespon dengan melakukan identifikasi keberadaan bunga bangkai yang tumbuh di Pemangku Warasjaya, Pekon Ciptawaras, Kecamatan Gedungsurian.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) KRL Liwa Sukimin, S.Ip., menegaskan, dari hasil identifikasi disimpulkan bahwa bunga bangkai tersebut termasuk dalam jenis Amorphophallus Gigas dari family araceae/talas-talasan dan memiliki tinggi batang-seludang 368 cm, lingkar batang bawah 43 cm, lingkar kelopak bunga 91 cm dan lingkar seludang 64 cm.

Bacaan Lainnya



Dari penelusuran di lokasi ternyata tidak hanya terdapat satu batang saja, namun ditemukan ada Lima  batang spesies yang sama, satu batang sudah dalam proses mekar sempurna, dua batang fase dorman dan dua batang masih di fase vegetatif.

“Atas persetujuan Peratin Pekon Ciptawaras Sunayah,  dan Camat gedungsurian Ernawati, S.E., maka UPTD KRL melaksanakan konservasi secara Ex Situ, dua  batang Amorphophallus gigas, yakni Satu batang fase dorman atau umbi batang, Satu batang fase vegetatif atau batang berdaun,” jelasnya.

Tujuan Pengkonservasian secara ex situ pada Amorphopallus Gigas yang tumbuh liar di area pemakaman Pekon Ciptawaras tersebut adalah untuk memperkaya koleksi araceae di KRL.

Sehingga diharapkan Amorphopallus Gigas yang dikonservasi dari Pekon Ciptawaras akan tumbuh baik di KRL dan dalam waktu 1,5-2 tahun yang akan datang sudah berbunga.

Dengan dikonservasikannya Amorphopallus Gigas, maka saat ini KRL Liwa telah mengkoleksi lima Jenis Amorphopallus, diantaranya jenis Amorphophallus titanum, Amorphophallus paeoniifolius/suweg, Amorphophallus mulleri/porang, Amorphophallus asper dan Amorphophallus gigas.

Pada kesempatan itu Sukimin berharap seandainya di kemudian hari ada ditemukan tumbuhan Amorphopallus yang merupakan tumbuhan endemik di Kabupaten Lambar tersebut, untuk segera diinformasikan guna diidentifikasi, lalu dikonservasi untuk menambah koleksi Amorphopallus di KRL, begitu juga yang tinggal untuk dirawat oleh pekon sebagai objek wisata. (ius/mlo)



Pos terkait