Warga Kebuntebu Ceritakan Pengalaman Buruk Kehilangan KTP di Bandara 

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Akibat KTP hilang saat hendak check-in di Bandara Soekarno Hatta Tanggerang, Siti Aminah (20), warga Pekon Purawiwitan, Kecamatan Kebuntebu, Kabupaten Lampung Barat (Lambar) gagal terbang dan harus berurusan dengan polisi bandara hingga pengurusan di Dinas Sosial (Dinsos) Tanggerang, dengan persyaratan harus ada penjemputan dari keluarga di kampung halaman.

Dan atas nasib apes yang dialami Siti Aminah tersebut, pihak Pekon Purawiwitan dan pihak Kecamatan Kebuntebu tidak tinggal diam. Dipimpin langsung oleh Peratin Purawiwitan Romli, dan Petugas Tenaga Kerja Sukarela Kecamatan (TKSK) Kebuntebu Fathur Rohman, mewakili Dinsos Lambar melakukan penjemputan kepada aminah yang diamankan petugas Dinsos Tanggerang.

Via Handphone kepada media ini, Siti menceritakan kronologis penahanannya tersebut. Dimana telah lama ini dirinya hendak pulang ke kampung halamannya di Kecamatan Kebuntebu, setelah dirinya berhenti bekerja di salah satu butik di Jakarta. 

“Pasca resign, saya pun pesan tiket pesawat pulang ke Lampung, namun ketika hendak cek in, KTP saya yang menjadi salah satu syarat hilang, sehingga secara otomatis saya berurusan dengan polisi bandara, kemudian melakukan proses pengurusan KTP di Dinas Sosial, dan salah satu syarat yang harus saya penuhi agar bisa pulang kampung harus dijemput keluarga,” kata dia. 

Selama dalam penanganan, Siti mengakui diberikan pelayanan dengan sangat baik. Baik saat di bandara, maupun di Dinsos Tanggerang, hingga akhirnya pihak keluarga yang dipimpin Peratin Romli tiba di Dinsos.

Malam minggu (20/3), Siti dan rombongan bertolak ke Lampung, setelah menyelesaikan segala persyaratan. “Saya bertolak ke Bandara Selasa, dan hari itu juga saya di arahkan petugas bandara ke Dinsos, dan selama di Dinsos saya disuruh petugas menunggu hingga keluarga datang,” ujarnya. 

Sementara, disampaikan Fathur Rohman, mendapatkan informasi tersebut dari Siti, pihak keluarga langsung berkoordinasi dengan peratin, dan peratin menyampaikan kabar tersebut kepadanya. Sehingga dengan kesepakatan bersama rombongan membawa mobil menjemput Fatimah.

“Semua proses berjalan dengan baik dan Siti dalam kondisi sehat, kami juga bersyukur anak ini tidak panik dan dapat berkoordinasi baik kepada petugas maupun dengan keluarga,” ungkapnya.

Sedangkan Peratin Purawiwitan Romli, mengajak pengalaman buruk yang dialami Amina jadi pembelajaran bagi semua. Terhadap pentingnya kelengkapan identitas. Agar tidak repot sebagaimana nasib Fatimah.   (r1n/mlo)




Pos terkait