Yulyanti

Yulyanti, S.H

Owner Afra Furniture

Nama : Yulyanti, S.H

Tempat/Tgl/Lahir : Kegeringan, 24 April 1977

Suami : Reza Mudra, ST

Anak :

  • Muhammad Fadhil Alfarizi (14 Th)
  • Afra Jundia Afifa (12 Th)
  • Azzam Khalif  Kanzpilano (3.5 Th)

Riwayat Pendidikan :

  • Tahun 1984 – 1987 SDN 1 Kegeringan Batu Brak Lampung Barat
  • Tahun 1987 – 1990 SDN 1 Pekon Balak Batu Brak Lampung Barat
  • Tahun 1990 – 1993 SMPN 2 Kedaton Bandar Lampung
  • Tahun 1993 – 1996 SMAN 5 Tanjung Karang Bandar Lampung
  • Tahun 1996 – 2000 Fakultas Hukum Universita Lampung

Pengalaman Organisasi :

  • Tahun 1998 Bendahra Umum KSR PMI Unit Universitas Lampung
  • Tahun 2004 Sebagai Fasilitator Kampung TUA Yang di Adakan Oleh Universital Lampung
  • Tahun 2004 Bergabung dan Mencalonkan Diri Sebagai Calon Legislatif dari Partai Pelopor
  • Tahun 2004 – 2006 Dosen STIH Kota Bumi (Kuliah Jarak Jauh di Liwa)
  • Tahun 2004 – 2007 Fasilitator UMKM Koperindagsar Lampung Barat

Yulyanti, Sosok Kartini Penopang Perekonomian Keluarga

Owner Afra Furniture, Beromzet Rp300 Juta per Bulan

BENAR kata pepatah ‘dimana ada kemauan di situ ada jalan’. Begitulah yang dirasakan Yulyanti, ibu muda yang memiliki dua putra dan satu putri tersebut kini telah memetik hasil dari usaha Afra Furniture yang dirintisnya sejak 12 tahun silam.

Meski tertatih, merangkak, duduk dan belajar melangkah, Anti—sapan Yulyanti, membuktikan bahwa apabila seseorang memiliki niat dan kemauan berusaha, pasti ada kemudahan menghampirinya meskipun harus melewati banyak rintangan.

Apa yang dilakukan dan apa yang diraih wanita 43 tahun ini, sekaligus membuktikan bahwa wanita juga mampu ikut membangun pondasi perekonomian, serta mampu merubah finansial keluarga kea rah yang lebih baik. Apa yang Anti raih saat ini, sekaligus menjadi motivasi bagi para Kartini di era millennial.

Mendirikan Afra Furniture, berawal dari kesulitan finansial keluarga yang dialami Yulyanti. Saat itu, ia mengaku pernah berada pada titik ekonomi paling rumit, bahkan hanya untuk membelikan susu formula pun sulit.

Dari kesulitan itu, timbul ide dan keinginan Anti untuk memiliki usaha yang bisa dikelola sendiri dengan harapan memperoleh penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Tahun 2008, bermodal nekat dan bakat yang dimiliki, Anti memberanikan diri memulai usahanya. Saat itu dinamai Afra Arisan. Nama Afra ia ambil dari nama putri pertamanya.

Bukan tanpa hambatan dan rintangan. Ketika itu, Anti mengaku sedang hamil tua dan tidak mendapat dukungan orang tua maupun keluarganya. Pada tanggal 14 Juni 2008, ia memiliki niat merehab tempat yang ia sewa untuk dijadikan tempat usaha, namun niat itu terhalang karena sedang hamil tua, sudah ada tanda-tanda akan melahirkan, hingga niat itu pun sempat tertunda.

Setelah dua minggu pasca melahirkan, mimpi membuka usaha itu benar-benar diwujudkannya.  Dengan keinginan yang kuat dan doa yang tidak pernah putus maka Afra Arisan terus bergerak maju.

”Awalnya tidak pernah membayangkan bahwa usaha yang saya rintis dari nol bakal menjadi sumber penghasilan yang utama, awalnya hanya berharap lapang dalam membeli susu anak-anak, namun hal itu bukanlah suatu kemustahilan, sungguh suatu hal yang diluar dugaan, karena ternyata sistem yang diterapkan Afra waktu itu sangat diterima oleh ibu-ibu,” beber Anti.

Bahkan, kata dia, omzetnya pernah mencapai Rp300 juta lebih setiap bulannya. Itu bukan semata-mata usaha dari owner Afra, melainkan semua hasil dari usaha ibu-ibu yang menjadi agen arisan di Afra, sekaligus menghantarkan Afra Arisan berubah nama menjadi Afra Furniture, dengan izin resmi dari Dinas Penanaman Modal PTSP dan Tenaga Kerja.

Kebanggan tersendiri bisa memotivasi para ibu-ibu untuk memanfaatkan waktu luang dan bisa mendapatkan penghasilan tambahan, dimana puncaknya pada tahun 2009-2013  agen arisan Afra Furniture berjumlah sekitar 130 agen aktif saat itu, dan setiap agen memiliki 10 hingga 100 orang anggota arisan, bisa dibayangkan berapa omzet yang dihasilkan dari seluruh agen dikala itu.

Namun semua itu tidak berjalan sebagaimana dibayangkan, karena saat itu kemunduran dimulai. Kemunduran itu terjadi karena lemahnya managemen pengelolaan toko dan pengawasan terhadap karyawan yang minim.

”Ketidak siapan dalam hal managemen toko saat sedang ramai-ramainya konsumennya, bahkan sempat membuka empat cabang toko salah satunya di Kabupaten Pringsewu, namun semua gagal bahkan sempat terlilit hutang, “ akunya.

Belajar dari pengalaman itu, Afra Furniture kini telah berhati-hati dalam me-managemen usaha yang dikelola hingga saat ini, dan berusaha menata ulang dari nol. Hingga Afra Furniture bisa terus eksis kedepannya.

”Alhamdulillah, para agen  Afra Furniture  menyatakan, bahwa dengan bergabungnya ke Afra Furniture mereka menjadi termotivasi dalam menambah penghasilan, bahkan ada beberapa agen yang sudah mendirikan usaha sendiri. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pelanggan setia Afr Furniture serta agen arisan Afra Furniture sejak bergabung hingga saat ini masih terus aktif dan setia menjalani usaha bersama Afra Furniture,” kata dia.

Dari sekian banyak yang menjadi agen Afra Furniture 99 persen adalah ibu-ibu. Ia berharap usaha yang didirikan oleh perempuan akan semakin menjamur.

”Suatu hal yang membuat saya tetap berdiri dalam segala macam badai dan ujian keyakinan akan firman Allah SWT bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan (QS: 94 : 5-8),” tutupnya. (adv/jen/mlo)