BANDAR LAMPUNG – Tren masyarakat mencari penghasilan tambahan melalui ponsel pintar tanpa modal awal dengan skema pembagian keuntungan dari iklan dan riset pasar masih bertahan hingga pertengahan tahun.
Fenomena digital tersebut tetap menjadi pilihan banyak pengguna di Indonesia untuk memanfaatkan waktu luang dan memperoleh tambahan pendapatan langsung dari perangkat seluler.
Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan pasar digital, terdapat dua jenis aplikasi permainan berbasis iklan yang saat ini paling banyak digunakan masyarakat. Keduanya menawarkan potensi akumulasi pendapatan yang berbeda bagi pengguna aktif, bergantung pada intensitas penggunaan dan kebijakan masing-masing pengembang.
Salah satu aplikasi permainan penghasil uang berbasis iklan yang dirilis sejak 2020 mencatatkan lebih dari 5 juta unduhan di Google Play Store dengan rating 4,6 bintang. Sementara itu, aplikasi sejenis lainnya juga telah diunduh lebih dari 5 juta kali dan memperoleh rating 4,4 bintang dari para pengguna.
Dari sisi potensi pendapatan, pengguna aktif aplikasi permainan berbasis iklan berpeluang memperoleh penghasilan tambahan secara berkala. Besaran pendapatan yang diterima dapat berbeda-beda sesuai aktivitas pengguna, durasi penggunaan, serta kebijakan platform.
Berdasarkan data sekunder yang dihimpun per Juli 2026, aplikasi permainan berbasis iklan yang dirilis pada 2020 memiliki lebih dari 5 juta unduhan, memperoleh rating 4,6 bintang, dan menawarkan potensi pendapatan maksimal hingga Rp 500.000 per bulan. Sementara aplikasi alternatif lainnya juga mencatat lebih dari 5 juta unduhan dengan rating 4,4 bintang, namun tidak mencantumkan estimasi potensi pendapatan.
Informasi tersebut bukan merupakan saran investasi maupun rekomendasi keuangan. Pendapatan dari aplikasi berbasis hadiah dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kebijakan pengembang serta tingkat aktivitas pengguna. Masyarakat diimbau tetap bijak dalam memanfaatkan layanan digital.
Seiring meningkatnya penggunaan aplikasi berbasis iklan, Google turut memperketat regulasi pada ekosistem Android. Sejak 1 Maret 2026, perusahaan menerapkan pemantauan melalui sistem Android Vitals dan metrik Excessive Wake Locks untuk meningkatkan kenyamanan serta keamanan pengguna.
Kebijakan tersebut diterapkan guna mengurangi aplikasi yang membebani perangkat melalui aktivitas latar belakang secara berlebihan demi menampilkan iklan terus-menerus. Apabila sistem mendeteksi aktivitas yang tidak wajar, perangkat akan menampilkan label peringatan khusus kepada pengguna.
Dalam aturan terbaru tersebut, label peringatan "boros baterai" akan muncul secara otomatis apabila sebuah aplikasi membuat perangkat tetap aktif (wake) selama lebih dari dua jam dalam periode 24 jam tanpa alasan yang jelas. Sistem akan memantau konsumsi daya secara berkala pada setiap sesi penggunaan.
Apabila lebih dari lima persen sesi pengguna terdampak masalah konsumsi daya selama 28 hari berturut-turut, peringkat aplikasi berpotensi diturunkan di Google Play Store. Meski demikian, Google memberikan pengecualian bagi aplikasi musik, navigasi, serta transfer data yang secara fungsional memang membutuhkan aktivitas latar belakang dalam waktu lama.
Selain itu, Google Play Store 2026 juga menghadirkan sejumlah pembaruan lain, seperti fitur pencarian elemen visual (widget), kewajiban verifikasi biometrik menggunakan sidik jari pada setiap transaksi pembelian, serta kebijakan penurunan potongan biaya bagi para pengembang aplikasi.