Saat terhubung ke server di Chiang Rai, Thailand, jaringan 5G mampu mencatat kecepatan unduh hingga 372 Mbps.
Namun ketika pengujian diarahkan ke server Jakarta yang secara geografis lebih dekat, kecepatannya justru berada di angka 236 Mbps.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa lokasi dan kemampuan server tujuan turut memengaruhi hasil pengujian.
Klaim kecepatan 5G hingga 500 Mbps juga tidak bisa dianggap sebagai angka yang selalu tersedia. Untuk mencapai kecepatan tersebut dibutuhkan kondisi ideal, seperti beban jaringan rendah, spektrum yang bersih, serta posisi pengguna yang dekat dengan BTS.
Wi-Fi Fiber Lebih Unggul untuk Gaming
Bagi gamer, kecepatan unduh bukan satu-satunya faktor penting. Latensi atau ping justru menjadi salah satu indikator utama karena menentukan seberapa cepat perintah dari perangkat diterima server game.
Pada Mobile Legends, koneksi fiber optik melalui Wi-Fi mencatat latensi sekitar 5–10 ms. Sementara 5G berada pada kisaran 15–30 ms.
Hasil tersebut menunjukkan Wi-Fi fiber lebih responsif untuk game yang membutuhkan koneksi stabil dan cepat.
Namun perbedaannya tidak selalu signifikan. Pada PUBG Mobile, kedua jaringan sama-sama mencatat latensi sekitar 20 ms.
Sementara pada Genshin Impact, keduanya menghasilkan ping lebih dari 100 ms. Kondisi tersebut lebih berkaitan dengan lokasi server game yang jauh dibandingkan jenis koneksi yang digunakan.
Download 5 GB, 5G Mulai Mendekati Fiber
Perbedaan performa semakin terlihat ketika kedua jaringan digunakan untuk mengunduh file berukuran besar.
Wi-Fi fiber optik menyelesaikan proses download file 5 GB dalam waktu sekitar 3 menit 12 detik.
Jaringan 5G membutuhkan waktu sekitar 4 menit 15 detik. Selisih sekitar satu menit menunjukkan bahwa 5G dalam kondisi pengujian tersebut sudah mampu mendekati performa internet kabel untuk kebutuhan download.