BANDAR LAMPUNG – Sebelum era SUV modern dipenuhi teknologi canggih dan fitur elektronik, masyarakat Indonesia telah mengenal Daihatsu Taft, kendaraan berpenggerak empat roda (4WD) yang identik dengan ketangguhan di berbagai medan.
Sejak hadir pada akhir 1970-an, mobil ini menjadi salah satu ikon otomotif nasional berkat mesin diesel yang tangguh, konstruksi kokoh, dan kemampuan off-road yang mumpuni.
Popularitas Daihatsu Taft tidak berhenti ketika produksinya berakhir. Hingga kini, mobil ini masih memiliki komunitas penggemar yang besar dan menjadi incaran kolektor.
Unit yang masih mempertahankan kondisi orisinal bahkan memiliki nilai jual yang terus meningkat karena dianggap sebagai salah satu SUV klasik paling bersejarah di Indonesia.
Daihatsu Taft pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada 1976 melalui varian F10 yang menggunakan mesin bensin 958 cc.
Namun, nama Taft mulai dikenal luas setelah kehadiran Taft F50 bermesin diesel 2.530 cc yang populer dengan julukan "Taft Kebo".
Julukan tersebut muncul karena karakter mobil yang memiliki bodi besar, tenaga kuat, serta kemampuan menjelajah medan berat layaknya seekor kerbau.
Seiring perkembangan pasar, Daihatsu terus menghadirkan berbagai varian Taft, mulai dari Hiline, GT, Rocky, hingga Taft Independent yang diproduksi sampai 2007 sebelum akhirnya nama Taft dihentikan untuk pasar Indonesia.
Salah satu faktor yang membuat Daihatsu Taft begitu diminati adalah penggunaan mesin diesel konvensional yang terkenal awet dan mudah dirawat.
Taft Kebo dibekali mesin diesel empat silinder berkode DL41, sedangkan generasi berikutnya menggunakan mesin DL42 berkapasitas sekitar 2,8 liter.
Meski tenaga yang dihasilkan tidak sebesar SUV modern, mesin tersebut menawarkan torsi melimpah pada putaran rendah sehingga sangat ideal digunakan untuk melintasi jalan berlumpur, tanjakan, kawasan perkebunan, maupun medan berat lainnya.
Minimnya penggunaan komponen elektronik juga membuat Taft lebih mudah diperbaiki, bahkan di daerah terpencil dengan fasilitas bengkel yang terbatas.