“Bagaimana dengan event ini kita bisa berbuat banyak dan melibatkan pelaku ekonomi kreatif dan masyarakat bisa bangga menghadirkan kreativitasnya di event di Lombok ini,” ujarnya.
Keterlibatan pelaku ekonomi kreatif diharapkan tidak hanya menjadi pelengkap acara, tetapi menjadi bagian dari ekosistem MotoGP Mandalika yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Sementara itu, Ketua DPW Gekrafs NTB, Yeyen Seprian Rachmat, mengatakan kolaborasi dengan MGPA menjadi kesempatan besar bagi pelaku ekonomi kreatif daerah untuk membuktikan bahwa produk lokal mampu bersaing dalam event berskala internasional.
Gekrafs NTB tidak hanya menyiapkan merchandise dengan desain umum, tetapi juga membawa produk yang mengangkat identitas dan kearifan lokal.
Produk tersebut meliputi kerajinan kriya, sapuq atau ikat kepala khas Sasak, pakaian polo, hingga berbagai produk dengan motif khas NTB.
Tahun ini, Gekrafs menargetkan keterlibatan lebih banyak pelaku ekonomi kreatif sekaligus peningkatan volume produk yang dipasarkan selama penyelenggaraan MotoGP Mandalika.
Dari sisi penyelenggaraan, Ananda menyebut penjualan tiket MotoGP Mandalika saat ini telah mencapai sekitar 30 persen.
Kapasitas tribun yang tersedia mencapai sekitar 31 ribu penonton. Sementara itu, MGPA menargetkan total kunjungan sebanyak 150 ribu penonton selama tiga hari penyelenggaraan, mulai Jumat hingga Minggu.
Jika target tersebut tercapai, geliat ekonomi di kawasan Mandalika dan sekitarnya diharapkan ikut meningkat.
Dampaknya diproyeksikan tidak hanya dirasakan oleh UMKM dan pelaku ekonomi kreatif, tetapi juga sektor pariwisata, kuliner, transportasi, perhotelan, serta berbagai usaha masyarakat lainnya.
Bagi Gekrafs NTB, kerja sama dengan MGPA bukan sekadar mengenai penyediaan official merchandise.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih luas.