MALUKU TENGGARA – Kepulauan Kei menyimpan banyak destinasi wisata alam memukau, salah satunya Goa Hawang yang berada di Desa Letvuan, Pulau Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara. Tempat wisata ini dikenal karena memiliki kolam air tawar berwarna biru jernih menyerupai kristal yang berada di dalam gua alami.
Keindahan panorama alam yang berpadu dengan kisah legenda masyarakat setempat menjadikan Goa Hawang bukan sekadar objek wisata biasa. Kawasan ini juga memiliki nuansa budaya dan cerita mistis yang masih dipercaya masyarakat hingga sekarang.
Dari luar, Goa Hawang tampak sederhana dengan pepohonan rindang yang mengelilingi kawasan gua. Namun saat memasuki area utama, wisatawan akan langsung disambut kolam alami berwarna biru bening yang berada di antara dinding batu kapur besar.
Keunikan utama Goa Hawang terletak pada kejernihan airnya. Dasar kolam bahkan dapat terlihat jelas meski memiliki kedalaman sekitar satu hingga tiga meter. Pantulan cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah gua membuat warna air tampak berubah mengikuti waktu.
Pada pagi hari, air terlihat biru muda. Memasuki siang, warnanya berubah menjadi toska, lalu tampak biru pekat menjelang sore hari. Perubahan warna alami tersebut menciptakan suasana dramatis yang membuat Goa Hawang terasa begitu eksotis dan menenangkan.
Air di dalam Goa Hawang berasal dari Mata Air Evu yang dikenal sebagai salah satu sumber air tawar terbesar di Pulau Kei Kecil. Air tersebut mengalir melalui sungai bawah tanah sebelum akhirnya bermuara ke laut.
Aliran air yang tenang dengan suhu sejuk membuat kolam alami di dalam gua nyaman digunakan untuk berenang maupun sekadar bermain air. Banyak wisatawan menyebut pengalaman berenang di Goa Hawang seperti berada di dalam akuarium raksasa karena airnya sangat jernih dan dikelilingi formasi batu alam yang indah.
Selain panorama kolam alami, Goa Hawang juga memiliki lorong-lorong batu kapur yang dihiasi stalaktit dan stalagmit alami. Formasi batu tersebut menghadirkan suasana eksotis yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun pencinta fotografi alam.
Pantulan cahaya pada dinding batu yang lembap menciptakan nuansa unik seolah membawa pengunjung memasuki dunia tersembunyi di bawah tanah.
Meski terlihat tenang, masyarakat setempat tetap memegang teguh aturan adat terkait keberadaan Goa Hawang. Salah satu aturan yang masih dipercaya hingga kini adalah larangan berenang sendirian di dalam kawasan gua.
Pengunjung dianjurkan datang bersama rombongan atau setidaknya memiliki pendamping demi menjaga keselamatan selama berada di area wisata. Kearifan lokal tersebut terus dijaga sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi masyarakat Kei yang diwariskan secara turun-temurun.
Nama “Hawang” sendiri berasal dari bahasa Kei yang berarti roh halus atau setan. Karena itu, sebagian masyarakat juga mengenal tempat ini dengan sebutan Goa Setan.