Selama dipasarkan di Indonesia, Kawasaki Binter Merzy hadir dalam dua generasi utama.
Generasi pertama masih menggunakan sistem pengapian platina, sedangkan generasi berikutnya telah mengadopsi sistem Capacitor Discharge Ignition (CDI) yang lebih modern, lebih stabil, dan minim perawatan.
Selain pembaruan pada sistem pengapian, Kawasaki juga melakukan sejumlah penyempurnaan pada sektor kelistrikan dan detail bodi.
Perjalanan Binter Merzy di Indonesia tidak berlangsung lama. Setelah berakhirnya kerja sama Kawasaki dengan PT Bintang Terang Indonesia pada pertengahan 1980-an, penggunaan nama "Binter" resmi dihentikan dan Kawasaki mulai memasarkan produknya menggunakan identitas global.
Meski demikian, nama Binter Merzy tetap melekat kuat di kalangan pecinta otomotif Indonesia dan menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan sepeda motor Kawasaki di Tanah Air.
Saat ini, Kawasaki Binter Merzy menjadi salah satu motor klasik dengan nilai koleksi yang terus meningkat.
Unit yang masih mempertahankan kondisi orisinal, dilengkapi dokumen lengkap, serta memiliki mesin yang terawat, dihargai cukup tinggi di pasar motor klasik.
Komunitas Binter Merzy juga masih aktif di berbagai daerah dengan rutin menggelar kegiatan touring, restorasi, hingga pameran otomotif klasik.
Popularitasnya bahkan kerap disebut menjadi inspirasi lahirnya Kawasaki W175, motor bergaya retro modern yang dipasarkan Kawasaki di Indonesia.
Warisan Kawasaki Binter Merzy tidak hanya terletak pada desain klasik dan mesin yang tangguh, tetapi juga pada perannya sebagai salah satu pelopor motor berkapasitas besar di Indonesia.
Lebih dari empat dekade setelah pertama kali mengaspal, namanya tetap dikenang sebagai salah satu legenda roda dua yang memiliki tempat istimewa di hati para pecinta motor klasik.