TEKNOLOGI – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) memunculkan perdebatan baru di tengah masyarakat. Di satu sisi, teknologi ini mampu mempercepat pekerjaan dan proses belajar. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa penggunaan AI secara berlebihan dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis manusia.
Praktisi teknologi sekaligus konten kreator Fajrul Fx menjelaskan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Berdasarkan sejumlah penelitian ilmiah terbaru, termasuk riset dari MIT Media Lab, penurunan kemampuan kognitif bukan disebabkan oleh AI itu sendiri, melainkan oleh cara manusia memanfaatkan teknologi tersebut.
Kekhawatiran terhadap Teknologi Bukan Hal Baru
Kecemasan terhadap hadirnya teknologi baru sebenarnya telah terjadi sejak ribuan tahun lalu.
Filsuf Yunani kuno Sokrates pernah mengkritik teknologi tulisan karena dianggap dapat melemahkan daya ingat manusia. Kekhawatiran serupa kembali muncul saat kalkulator mulai digunakan di sekolah pada era 1980-an. Saat internet berkembang pesat, muncul pula perdebatan mengenai apakah internet membuat manusia menjadi lebih malas berpikir.
Kini, AI menghadapi kekhawatiran yang sama, meski dengan kemampuan yang jauh lebih canggih dibanding teknologi sebelumnya.
Hasil Riset MIT: Aktivitas Otak Berbeda Saat Menggunakan AI
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti dari MIT Media Lab melakukan studi mengenai aktivitas otak manusia saat menyelesaikan tugas dengan tingkat bantuan teknologi yang berbeda.
Peserta penelitian dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
- Menggunakan Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT.
- Menggunakan mesin pencari seperti Google.
- Menyelesaikan tugas tanpa bantuan teknologi.
Hasil pemindaian menunjukkan bahwa aktivitas otak menurun seiring meningkatnya tingkat bantuan teknologi yang digunakan.
Kelompok yang menyelesaikan tugas secara mandiri menunjukkan aktivitas saraf otak paling tinggi. Sebaliknya, kelompok yang menggunakan AI mencatat aktivitas otak paling rendah karena sebagian proses berpikir dialihkan kepada sistem AI.
Temuan menarik lainnya muncul ketika seluruh peserta kembali diminta menyelesaikan tugas tanpa bantuan AI.
Peserta yang sebelumnya terbiasa mengandalkan AI tetap memperlihatkan aktivitas otak yang relatif rendah. Sebaliknya, peserta yang sejak awal mengerjakan tugas secara mandiri tetap mampu mempertahankan aktivitas otak yang tinggi meskipun kemudian diberi akses AI.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa penyebab utama penurunan fungsi kognitif bukanlah AI, melainkan kebiasaan pengguna dalam mengandalkan teknologi.