Hal serupa berlaku pada klaim kemampuan pemrosesan hingga 330 token per detik. Angka tersebut diperoleh ketika Xiaomi menguji model AI berukuran 3 miliar parameter menggunakan X-ring O100.
Kecepatan tersebut tidak bisa langsung dijadikan gambaran performa ketika perangkat menjalankan model 120 miliar parameter. Beban komputasi yang jauh lebih besar tentunya dapat menghasilkan kecepatan berbeda.
Dengan demikian, penyebutan Xiaomi AI Cube sebagai pesaing langsung Nvidia DGX Spark masih perlu dibuktikan melalui pengujian independen setelah perangkat tersedia secara komersial.
Xiaomi AI Cube vs Nvidia dan AMD
Kehadiran Xiaomi AI Cube berpotensi memperketat persaingan di segmen perangkat komputasi AI berukuran ringkas.
Dari sisi kapasitas memori maksimum, Xiaomi menyebut perangkat ini mendukung memory pool hingga 160 GB. Kapasitas tersebut berada di atas sejumlah pesaing yang memiliki batas sekitar 128 GB.
Namun, prototipe yang diperlihatkan Xiaomi baru menggunakan memori 80 GB. Artinya, kemampuan maksimum 160 GB belum sepenuhnya terlihat pada perangkat yang dipamerkan.
Xiaomi juga belum mengungkap seluruh spesifikasi teknis AI Cube. Kondisi tersebut masih dapat dimaklumi karena perangkat saat ini berstatus prototipe.
Spesifikasi final, performa, sistem pendinginan, harga, serta konfigurasi memori masih dapat berubah ketika Xiaomi memasuki tahap produksi komersial.
Xiaomi AI Cube Diprediksi Hadir pada 2027
Bagi konsumen yang tertarik memilikinya, Xiaomi AI Cube tampaknya belum akan tersedia dalam waktu dekat.
Perangkat tersebut diperkirakan baru dapat diluncurkan secara komersial paling cepat pada 2027. Salah satu tantangan terbesar adalah kesiapan produksi massal tiga chipset custom yang digunakan.
Dari ketiga chip tersebut, X-ring O3 disebut paling siap untuk masuk tahap manufaktur massal. Sementara X-ring O100 dan X-ring D100 masih membutuhkan pengembangan serta validasi lebih lanjut.