Parosil berharap anak-anak muda Lampung Barat tidak hanya menjadi konsumen merek kopi dari luar daerah. Mereka diharapkan mulai mengenal, mencintai dan ikut mengembangkan potensi kopi daerah sendiri.
Menurutnya, kopi juga dapat menjadi pintu masuk untuk mempertemukan berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kreativitas, kewirausahaan, lingkungan, budaya hingga pariwisata.
“Branding kopi Lampung Barat harus dibangun melalui cerita, kualitas dan pengalaman. Kita memiliki potensi yang besar, tinggal bagaimana seluruh kekuatan itu kita satukan,” jelasnya.
Parosil berharap Coffee Camp tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, petani, pemuda, perempuan, akademisi, dunia usaha dan berbagai mitra pembangunan.
“Kalau Lampung Barat punya kopi, maka anak mudanya harus menjadi bagian dari masa depan kopi itu,” tegasnya.
Coffee Camp ke-4 tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-35 Kabupaten Lampung Barat. Kegiatan itu diharapkan semakin memperkuat daya saing kopi lokal sekaligus mendorong terciptanya nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.