"Usia 35 tahun, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan Pemkab Lampung Barat. Mulai dari PAD, BUMD, angka kemiskinan, stunting, sampai pemerataan pembangunan infrastruktur yang masih jauh dari mendekati merata," ujarnya.
Terkait PAD, Anton mengakui terdapat peningkatan. Namun, ia menilai sumber pertumbuhan tersebut perlu dilihat secara lebih rinci, terutama untuk mengetahui seberapa besar kontribusi dari aktivitas ekonomi dan hasil usaha pemerintah daerah.
"PAD Lampung Barat meningkat, tetapi dominan karena kenaikan sektor pajak dan retribusi, bukan semata-mata karena hasil usaha pemerintah daerah," katanya.
Ia juga menyoroti kondisi sejumlah BUMD yang menurutnya masih menghadapi persoalan.
"BUMD sampai saat ini masih ada yang bermasalah, seperti BUMD PMP dan PDAM. Ini juga harus menjadi evaluasi karena BUMD seharusnya bisa memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah," ujar Anton.
Di sisi lain, Anton meminta pemerintah daerah lebih selektif dalam mengalokasikan anggaran untuk kegiatan yang bersifat seremonial.
Menurutnya, kegiatan pemerintah yang melibatkan masyarakat tidak semestinya hanya dinilai dari kemeriahan acara. Hal yang lebih penting adalah manfaat yang dapat dirasakan masyarakat setelah kegiatan tersebut selesai.
"Pemkab jangan banyak kegiatan seremonial yang melibatkan masyarakat dan sifatnya hiburan, apalagi kalau sampai menggunakan anggaran daerah. Setelah kegiatan ramai dan meriah, output, outcome, benefit, dan impact-nya harus jelas," katanya.
Ia menilai setiap penggunaan anggaran daerah semestinya memiliki ukuran manfaat yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Meski menyampaikan sejumlah catatan, Anton menegaskan pandangannya tidak dimaksudkan untuk menafikan capaian pemerintah daerah.
"Terlepas dari seberapa capaian pemerintah, kita tetap mengapresiasi. Semoga Lampung Barat ke depan semakin baik dan maju," ujarnya.
Anton juga berharap pemerintah tetap terbuka terhadap kritik dan masukan masyarakat sebagai bagian dari evaluasi pembangunan.