BANDAR LAMPUNG – Harga emas dunia ambruk pada perdagangan Senin 28 September 2026. Kenaikan harga minyak menjadi salah satu sentimen yang menekan harga sang logam mulia.
Mengutip perdagangan pasar spot, harga emas dunia ditutup di US$4.127,3 per troy ons. Harga tersebut ambrol 3,68% dibandingkan posisi penutupan akhir pekan lalu sekaligus menjadi level terendah sejak 5 Agustus 2026.
Pergerakan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi emas. Pada perdagangan yang sama, harga minyak mentah jenis Brent ditutup naik 1,6% menjadi US$105,99 per barel.
Dinamika di Timur Tengah masih menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga minyak. Pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum menghasilkan perkembangan signifikan, terutama terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kenaikan harga energi berpotensi membuat upaya dunia menekan inflasi menjadi lebih sulit. Kondisi tersebut dapat membatasi ruang bank sentral di berbagai negara untuk melonggarkan kebijakan moneter, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga acuan.
Emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil atau non-yielding asset. Oleh karena itu, daya tarik emas cenderung berkurang ketika suku bunga berada pada level tinggi karena investor memiliki alternatif aset berbasis imbal hasil.
“Emas sedang berada dalam situasi yang sangat sulit dalam jangka pendek. Harga minyak menguji level US$ 110/barel, yield obligasi naik, dan The Fed (Federal Reserve, bank sentral AS) mungkin saja menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin tahun depan,” tegas Nicky Shiels, Kepala Riset Logam di MKS PAMP, dalam wawancara dengan Bloomberg TV.
Lantas, bagaimana prospek harga emas pada perdagangan hari ini, Selasa 29 September 2026? Apakah harga emas berpeluang bangkit atau justru kembali tertekan?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), harga emas masih berada di zona bearish. Hal tersebut tercermin dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang berada di level 34. RSI di bawah 50 menunjukkan suatu aset berada dalam kecenderungan bearish.
Di sisi lain, indikator Stochastic RSI 14 hari telah menyentuh level nol. Kondisi tersebut menunjukkan harga emas berada dalam kondisi sangat jenuh jual atau oversold.
Dengan koreksi yang cukup dalam, harga emas pada perdagangan hari ini sebenarnya memiliki peluang mengalami kenaikan. Kondisi oversold dapat membuka ruang bagi terjadinya technical rebound.
Resistance terdekat berada di US$4.248 per troy ons, yang merupakan posisi Moving Average (MA) 5. Jika level tersebut berhasil ditembus, MA-10 di US$4.292 per troy ons berpotensi menjadi target berikutnya.