Dian juga mengingatkan pentingnya pemahaman mengenai jejak digital. Setiap tulisan, unggahan, komentar, maupun konten yang dibagikan di internet dapat meninggalkan rekam jejak yang berpengaruh terhadap identitas dan reputasi seseorang pada masa mendatang.
“Jejak digitalmu adalah masa depanmu, berpikir sebelum berbagi. Semua tulisan, unggahan, komentar, dan hal yang kita bagikan di internet akan terekam serta membentuk jejak identitas kita,” tegasnya.
Ia menambahkan, pembentukan perilaku digital yang bertanggung jawab tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan di sekolah. Keterlibatan keluarga, terutama orang tua, juga diperlukan agar remaja mampu menggunakan teknologi secara sehat dan produktif.
Orang tua diharapkan tidak hanya mengawasi penggunaan gawai, tetapi juga menjadi pendamping, pendidik, sekaligus teladan bagi anak dalam beraktivitas di dunia digital.
Menurut Dian, komunikasi terbuka antara orang tua dan anak perlu terus dibangun. Dengan komunikasi yang baik, remaja akan memiliki ruang untuk menceritakan pengalaman, menyampaikan persoalan, serta berdiskusi mengenai aktivitas mereka di media sosial.
“Saya mengajak para orang tua untuk membangun komunikasi yang terbuka dengan anak. Berikan pemahaman tentang pentingnya menjaga privasi, menghargai orang lain di media sosial, memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, serta memikirkan dampak dari setiap unggahan dan komentar yang dibuat,” katanya.