BANDAR LAMPUNG – Harga emas dan perak dunia mengalami pelemahan tajam pada perdagangan waktu Amerika Serikat seiring meningkatnya ekspektasi investor terhadap potensi kenaikan suku bunga setelah Federal Reserve (The Fed) menunjukkan sikap yang lebih hawkish.
Mengutip CNBC, kontrak berjangka emas turun sebesar US$43,40 atau 1,03 persen menjadi US$4.142 per ons. Sementara itu, harga perak berjangka merosot lebih dalam, yakni US$3,39 atau 5,17 persen ke level US$62,25 per ons setelah sempat menyentuh posisi US$61,80 per ons.
Pelemahan harga logam mulia terjadi di tengah aksi jual saham teknologi global yang mempengaruhi sentimen pasar keuangan. Kondisi tersebut mendorong investor mengurangi eksposur pada sejumlah aset, termasuk emas dan perak.
Tekanan terhadap emas semakin kuat setelah hasil pertemuan Federal Reserve pekan lalu yang dipimpin Kevin Warsh dinilai lebih hawkish dibandingkan perkiraan pelaku pasar. Sikap tersebut memunculkan spekulasi bahwa bank sentral Amerika Serikat masih berpeluang menaikkan suku bunga hingga akhir tahun.
Kenaikan suku bunga umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen investasi berbasis pendapatan tetap. Dalam kondisi suku bunga tinggi, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang menawarkan tingkat pengembalian lebih menarik.
Di sisi lain, status emas sebagai aset safe haven mulai menghadapi tantangan baru. Sejak konflik antara Amerika Serikat dan Iran pecah pada 28 Februari 2026, sejumlah faktor yang sebelumnya mendukung penguatan harga emas mulai dipertanyakan oleh pelaku pasar.
Perubahan pandangan tersebut juga tercermin dari langkah sejumlah lembaga keuangan global yang merevisi proyeksi harga emas. Analis komoditas Deutsche Bank menilai pergerakan pasar emas saat ini lebih dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan moneter ketat dibandingkan sentimen bullish yang mendominasi beberapa waktu lalu.
Deutsche Bank memangkas target harga emas untuk kuartal III 2026 menjadi US$4.300 per ons apabila Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Namun, jika terjadi tiga hingga empat kali kenaikan suku bunga tambahan, harga emas berpotensi turun hingga menyentuh US$3.800 per ons.
Sementara itu, analis komoditas Michael Widmer menilai target harga emas di level US$6.000 per ons yang sebelumnya sempat beredar di pasar kini semakin sulit direalisasikan. Menurutnya, tekanan inflasi yang masih tinggi berpotensi membuat Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu lebih lama.
Pelaku pasar kini menunggu rilis data ekonomi terbaru Amerika Serikat serta berbagai sinyal lanjutan dari pejabat Federal Reserve. Kedua faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu utama arah pergerakan harga emas dan perak global dalam beberapa bulan ke depan.
