BANDAR LAMPUNG – Harga smartphone di Indonesia dan berbagai negara diperkirakan masih akan terus mengalami kenaikan dalam beberapa tahun ke depan. Pengamat teknologi sekaligus kreator konten teknologi, David GadgetIn, menyebut lonjakan harga tersebut dipicu oleh krisis pasokan komponen yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi konsumen yang berencana mengganti perangkat. Pasalnya, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada segmen premium, tetapi juga merata hingga ke kelas menengah dan entry-level.
Harga Smartphone Naik di Semua Segmen
David menjelaskan bahwa kenaikan harga smartphone saat ini jauh lebih terasa dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Perangkat yang sebelumnya dijual di kisaran Rp3 jutaan kini banyak yang dipasarkan dengan harga Rp4 jutaan meski menawarkan spesifikasi yang relatif sama. Sementara itu, ponsel entry-level yang dulu bisa dibeli dengan harga sekitar Rp1 jutaan kini banyak bergeser ke rentang Rp2 jutaan.
Tidak hanya harga yang meningkat, sejumlah produsen juga mulai melakukan penyesuaian spesifikasi guna menekan biaya produksi.
Fenomena tersebut bahkan terlihat pada kategori smartphone yang selama ini dikenal sebagai "flagship killer". Kini, banyak perangkat di kelas tersebut dijual dengan harga yang mendekati smartphone flagship premium.
Menurut David, sejumlah merek besar juga mulai menghadapi tekanan yang sama, termasuk produsen yang selama ini dikenal mampu menjaga stabilitas harga produknya.
Industri AI Jadi Penyebab Utama
Salah satu faktor terbesar yang mendorong kenaikan harga smartphone adalah meningkatnya harga komponen penting seperti RAM, media penyimpanan (storage), dan chipset.
David menilai ledakan industri kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi penyebab utama kondisi tersebut.
Saat ini, perusahaan teknologi global berlomba membangun pusat data (data center) untuk mendukung pengembangan AI. Infrastruktur tersebut membutuhkan komponen memori berkapasitas besar dan performa tinggi dalam jumlah sangat besar.
Akibatnya, produsen komponen lebih memprioritaskan kebutuhan industri AI dibandingkan pasar smartphone.
Bahkan, CEO Jensen Huang pernah memprediksi bahwa tekanan terhadap pasokan memori global berpotensi berlangsung hingga akhir dekade ini.