JAKARTA – Penyanyi Tantri Syalindri Ichlasari atau yang lebih dikenal sebagai Tantri Kotak mengungkap pengalaman pahit setelah diduga menjadi korban penipuan investasi yang dilakukan oleh teman dekatnya sendiri, Popi Novitasari. Kerugian yang dialaminya mencapai miliaran rupiah, termasuk dana yang selama ini dipersiapkan untuk menjamin masa depan pendidikan kedua anaknya.
Kasus tersebut menjadi sorotan publik setelah Tantri bersama sejumlah korban lainnya mulai menceritakan pengalaman mereka. Berdasarkan keterangan para korban, total kerugian akibat dugaan investasi bermasalah itu diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah.
Tantri menuturkan, keputusan menginvestasikan dana tersebut berawal dari keinginannya mengembangkan tabungan pendidikan anak-anak. Sebagai seorang musisi yang tidak memiliki dana pensiun layaknya pekerja formal, ia berupaya mengelola hasil kerja kerasnya agar dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi keluarga.
Keputusan tersebut juga didasari rasa percaya kepada pelaku yang merupakan teman dekatnya. Hubungan pertemanan membuat Tantri tidak memiliki kecurigaan bahwa dana yang diinvestasikan justru berpotensi hilang.
Harapan memperoleh keuntungan demi masa depan anak-anak pun berubah menjadi kekecewaan. Tantri mengaku sangat terpukul karena uang yang dikumpulkan selama bertahun-tahun tidak dapat kembali. Baginya, kerugian tersebut bukan hanya persoalan materi, tetapi juga meninggalkan rasa dikhianati oleh orang yang selama ini dipercaya.
Meski tidak mengungkap nominal secara rinci, Tantri memastikan nilai kerugiannya mencapai miliaran rupiah. Sementara jika digabungkan dengan korban lain yang dikenalnya, total kerugian diperkirakan telah menembus puluhan miliar rupiah.
Menurut Tantri, pelaku diduga mampu membangun kepercayaan para korban sehingga banyak orang yakin untuk terus menanamkan modal. Modus yang digunakan dilakukan secara bertahap, yakni menawarkan investasi baru ketika dana sebelumnya diklaim telah menghasilkan keuntungan atau memasuki masa pencairan.
Melalui cara tersebut, para korban terdorong kembali menginvestasikan uangnya sehingga nilai dana yang disetorkan terus bertambah. Kondisi itu membuat banyak korban tidak segera menarik investasinya karena percaya keuntungan akan terus mengalir.
Tantri mengungkapkan dirinya sempat berniat menghentikan investasi lantaran membutuhkan dana untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Namun, setiap kali menyampaikan keinginan tersebut, pelaku disebut kembali meyakinkannya agar tetap melanjutkan investasi.
Menurutnya, pelaku bahkan menggunakan pendekatan emosional dengan mengaitkan alasan investasi dengan kebutuhan keluarga dan pendidikan anak. Hal itu membuat Tantri kembali percaya hingga mengurungkan niat menarik dana yang telah diinvestasikan.
Seiring berjalannya waktu, Tantri mulai menyadari adanya kejanggalan ketika proses pencairan dana tidak berjalan sesuai dengan yang dijanjikan. Dari situlah ia bersama korban lainnya menduga investasi yang mereka ikuti bermasalah.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi Tantri. Ia mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati sebelum memutuskan menanamkan modal, sekalipun tawaran investasi datang dari orang yang sudah dikenal dekat.