Meski mengapresiasi proses penyelamatan, Alzier menilai perhatian utama seharusnya diarahkan pada sistem pemantauan kesehatan sebelum kondisi darurat terjadi.
"Dua puluh jam upaya penyelamatan itu hanyalah tindakan darurat di akhir. Yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana pengawasan dan perawatan dilakukan selama bertahun-tahun sebelumnya," sindir Alzier.
Alzier menegaskan bahwa Indra bukan sekadar gajah jinak, melainkan satwa konservasi yang memiliki kontribusi besar terhadap pelestarian hutan di Lampung.
Sejak 1995, Indra terlibat dalam berbagai kegiatan konservasi, mulai dari penanganan konflik antara manusia dan satwa liar, penggiringan gajah liar, hingga mendukung pengamanan kawasan hutan.
"Indra telah menjadi pelindung hutan dan membantu manusia selama puluhan tahun. Namun ketika usianya menua dan kesehatannya menurun, apakah negara telah benar-benar membalas pengabdiannya dengan perawatan yang layak? Itu yang patut dipertanyakan," katanya.
Menurut Alzier, kepergian Indra menjadi catatan penting bagi pengelolaan satwa konservasi di Indonesia.
"Pejuang seperti Indra bahkan tidak sempat memperoleh penghormatan yang layak. Jika benar ada kelalaian dalam perawatannya, maka ini menjadi aib yang harus dievaluasi secara terbuka," tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Alzier meminta pemerintah bersama pengelola Taman Nasional Way Kambas melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perawatan satwa konservasi serta menindaklanjuti apabila ditemukan adanya unsur kelalaian.
"Untuk apa negara menganggarkan biaya besar jika pengawasan dan kepedulian terhadap satwa konservasi tidak berjalan maksimal? Kami meminta evaluasi menyeluruh serta sanksi tegas apabila ditemukan adanya kelalaian dalam perawatan Indra. Jangan sampai peristiwa seperti ini kembali terulang," pungkas Alzier.
Meski jasad Indra telah dimakamkan di kawasan Taman Nasional Way Kambas, Alzier berharap pengabdian gajah tersebut menjadi pengingat penting bagi seluruh pihak untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan satwa konservasi.
"Hutan yang selama ini ia jaga akan kehilangan salah satu penjaganya. Kini giliran kita sebagai manusia memastikan tidak ada lagi satwa berjasa yang bernasib sama akibat kelalaian yang seharusnya bisa dicegah," tutup Alzier.