Selain mudah dirawat, konstruksi mesin yang minim komponen membuat proses perawatan maupun perbaikan relatif lebih sederhana dibandingkan teknologi yang berkembang setelahnya.
Suara knalpot khas mesin dua tak serta sensasi ledakan tenaga di putaran menengah menjadi ciri yang hingga kini masih dirindukan para penggemarnya.
Dari sisi tampilan, Yamaha YT 115 mengusung desain khas motor trail era 1980-an yang sederhana tetapi fungsional.
Motor ini menggunakan spatbor depan model tinggi yang mampu meminimalkan penumpukan lumpur ketika melintasi jalur tanah.
Posisi setang yang lebar memberikan kendali lebih baik sekaligus menghadirkan posisi berkendara yang tegak dan nyaman.
Suspensi depan teleskopik serta suspensi belakang dengan jarak ayun cukup panjang dirancang untuk meredam guncangan saat melewati medan yang tidak rata.
Karakter petualangnya semakin kuat berkat penggunaan velg jari-jari berdiameter besar yang dipadukan dengan ban bermotif semi off-road.
Walaupun tampil sederhana jika dibandingkan motor trail modern, desain klasik inilah yang justru menjadi daya tarik utama Yamaha YT 115 di mata kolektor.
Walaupun produksinya telah dihentikan sejak lama, Yamaha YT 115 masih memiliki pasar tersendiri di kalangan penghobi motor klasik.
Harga jual unit bekas sangat bergantung pada kondisi kendaraan. Unit yang masih mempertahankan komponen asli, memiliki nomor rangka dan nomor mesin sesuai dokumen, serta dilengkapi surat-surat resmi umumnya dihargai jauh lebih tinggi dibandingkan motor yang telah mengalami banyak modifikasi.
Komunitas pecinta motor dua tak di Indonesia juga masih aktif mencari suku cadang orisinal untuk mempertahankan keaslian tampilan maupun performa Yamaha YT 115.
Bagi banyak pecinta otomotif, Yamaha YT 115 bukan sekadar kendaraan, melainkan bagian dari perjalanan sejarah perkembangan motor trail di Indonesia.