Sandarsyah menjelaskan, kepemimpinan pemuda tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menjadi pemimpin dalam organisasi. Lebih dari itu, kepemimpinan mencakup kemampuan mengembangkan diri, membangun kepercayaan diri, berkomunikasi, memotivasi orang lain, serta bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
“Ini melibatkan pengembangan diri, kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, motivasi, serta kerja sama tim untuk membawa perubahan sosial yang inovatif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Menurut dia, pemuda juga harus mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Mereka diharapkan mampu mengenali potensi diri, menetapkan tujuan, serta berani mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan di masyarakat.
Kreativitas, semangat, dan perspektif yang segar menjadi modal penting bagi generasi muda untuk melahirkan gagasan inovatif sekaligus mendorong perubahan positif.
“Pemuda membawa perspektif segar, semangat, dan pendekatan inovatif yang dapat menghasilkan kebijakan berwawasan masa depan, seperti keberlanjutan dan inklusivitas jangka panjang,” terangnya.
Sandarsyah menambahkan, cita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045 harus dipersiapkan sejak sekarang. Generasi muda yang saat ini berada pada usia produktif akan menjadi salah satu kekuatan utama pembangunan pada masa mendatang.
Karena itu, pemuda didorong mengambil peran dalam berbagai sektor, mulai dari ekonomi, pendidikan, sosial hingga politik. Kreativitas, semangat, dan tekad generasi muda diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat.
Para pemuda juga diminta membangun kebiasaan positif, seperti memperbanyak membaca, menggunakan internet dan media sosial secara bijak, terbuka terhadap pengalaman baru, serta berani membangun ide dan visi untuk masa depan.
Selain kepemimpinan, pemahaman mengenai kesehatan reproduksi menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda yang berkualitas.
Pemuda perlu memahami berbagai risiko kesehatan reproduksi, termasuk perilaku seksual berisiko, penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (Napza), penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS, serta pernikahan dini.
“Dengan demikian diharapkan akan lahir Generasi yang Berencana (GenRe) yang akan menjadi Generasi Emas,” pungkasnya.
Generasi tersebut diharapkan mampu merencanakan masa depan, baik dalam bidang pendidikan maupun pekerjaan, menerapkan pola hidup sehat, aktif dalam kehidupan masyarakat, serta merencanakan pernikahan secara matang.