Dengan kapasitas tersebut, pengguna dapat menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari tanpa terlalu sering mencari sumber daya. Untuk penggunaan intensif, kapasitas baterai juga memberikan daya tahan yang cukup untuk menemani aktivitas sepanjang hari.
Pangkas Material Premium demi Harga Murah
Pertanyaan besar yang muncul ketika POCO F1 diluncurkan adalah bagaimana Xiaomi mampu menawarkan performa flagship dengan harga sekitar Rp4 jutaan.
Jawabannya terletak pada strategi pemangkasan fitur dan material yang tidak dianggap esensial.
POCO F1 menggunakan layar IPS LCD berukuran 6,18 inci dengan resolusi Full HD+. Panel tersebut belum menggunakan teknologi AMOLED yang ketika itu lebih identik dengan smartphone premium.
Bagian belakang perangkat juga menggunakan material polikarbonat atau plastik, bukan kaca maupun logam. Strategi ini membantu menekan biaya produksi tanpa mengorbankan komponen utama yang berkaitan langsung dengan performa.
Pendekatan serupa diterapkan pada sektor kamera. POCO F1 tidak dibekali Optical Image Stabilization atau OIS, tetapi tetap menggunakan sensor utama Sony IMX363 12 MP yang dipadukan dengan kamera depth 5 MP.
Untuk kebutuhan selfie, tersedia kamera depan beresolusi 20 MP.
Kamera Mampu Melampaui Ekspektasi
Meski tidak membawa spesifikasi kamera yang terlalu mewah, hasil foto POCO F1 pada masanya cukup mengejutkan.
Pemrosesan gambar yang matang dan dynamic range yang tergolong baik membuat kamera perangkat mampu menghasilkan foto yang lebih bagus dari ekspektasi sebagian pengguna.
Kualitas tersebut bahkan dapat ditingkatkan melalui penggunaan modifikasi Google Camera atau GCam. Kehadiran komunitas pengembang membuat pengguna POCO F1 memiliki banyak pilihan untuk mengeksplorasi kemampuan kamera perangkat.
Gaming Jadi Keunggulan Utama POCO F1
Jika ada satu sektor yang membuat POCO F1 begitu populer, jawabannya adalah performa gaming.
Dengan Snapdragon 845 dan sistem pendingin LiquidCool Technology, POCO F1 mampu menjalankan game berat yang populer pada masa tersebut.