Dengan mesin tersebut, RX-K menawarkan performa yang cukup agresif untuk ukuran sepeda motor pada awal 1980-an.
Data spesifikasi yang banyak beredar mencatat tenaga maksimum sekitar 17,5 hp pada putaran 7.500 rpm.
Tenaga tersebut disalurkan melalui transmisi manual lima percepatan dengan sistem pengapian CDI.
Perpaduan mesin dua tak, bobot kendaraan yang relatif ringan, serta karakter tenaga yang cepat membuat RX-K memiliki daya tarik tersendiri pada masanya.
Meski kini tergolong motor klasik, RX-K telah mengadopsi sejumlah teknologi yang cukup menarik pada era tersebut.
Salah satunya adalah Yamaha Energy Induction System (YEIS). Teknologi ini dirancang untuk membantu proses pemasukan campuran bahan bakar dan udara ke mesin.
RX-K juga menggunakan sistem pelumasan otomatis Autolube. Dengan teknologi tersebut, oli samping dapat disalurkan secara otomatis sesuai kebutuhan mesin sehingga pengguna tidak perlu mencampurkan oli secara manual ke dalam tangki bahan bakar.
Sistem pengapian sudah menggunakan CDI, sedangkan transmisinya terdiri atas lima tingkat percepatan dengan pola 1-N-2-3-4-5.
Berbagai teknologi tersebut membuat RX-K tidak sekadar menjadi motor dua tak berkapasitas kecil. Model ini juga memperlihatkan arah pengembangan Yamaha sebelum memasuki era RX-King.
Secara visual, Yamaha RX-K masih memperlihatkan karakter motor Jepang pada awal dekade 1980-an.
Lampu depan berbentuk bulat, panel instrumen cenderung kotak, tangki bergaya teardrop, serta lampu belakang berbentuk kotak menjadi beberapa ciri yang mudah dikenali.
Bodi RX-K terlihat sederhana jika dibandingkan dengan RX-King yang datang setelahnya.