Namun, kesederhanaan tersebut justru menjadi salah satu daya tarik bagi penggemar motor klasik.
RX-King kemudian hadir dengan desain yang lebih agresif dan identitas visual yang jauh lebih kuat.
Perbedaan karakter tersebut membuat RX-K kini semakin menarik bagi kolektor yang ingin memiliki bagian awal dari sejarah keluarga RX.
Jantung pacu RX-K mengandalkan mesin satu silinder dua tak berpendingin udara.
Berdasarkan data spesifikasi yang banyak digunakan, diameter pistonnya sekitar 58 mm dengan langkah 50 mm.
Tenaga maksimum yang berada di kisaran 17,5 hp pada 7.500 rpm menjadi salah satu daya tarik utama motor tersebut.
Sejumlah sumber juga mencatat torsi sekitar 1,54 kg-m pada putaran 8.000 rpm. Untuk sepeda motor pada era 1980-an, angka tersebut tergolong menarik.
Karakter khas mesin dua tak membuat respons akselerasinya terasa spontan, terutama ketika putaran mesin mulai meningkat.
Karakter inilah yang kemudian menjadi salah satu identitas kuat keluarga RX Yamaha dan terus berkembang pada generasi RX-King.
Meskipun menjadi bagian penting dari sejarah RX, popularitas RX-K tidak pernah menyamai RX-King.
Salah satu faktor yang kerap disebut adalah status RX-K sebagai motor CBU Jepang.